Kaldu Nabati Ala Jepang: Solusi Halal dan Vegan untuk Wisatawan Global
Baca dalam 60 detik
- Fuji Oil luncurkan MIRA-Dashi, kaldu nabati rasa ayam dan seafood, untuk menjawab kebutuhan halal dan vegan wisatawan.
- Produk ini sudah dipakai restoran ramen Ippudo dan kafe di Osaka, serta mendapat sambutan positif dari turis asing.
- Ekspansi ke Tokyo dan kerja sama dengan pemerintah kota Izumisano menunjukkan potensi pasar besar bagi makanan inklusif.

Perusahaan makanan asal Osaka, Fuji Oil, menciptakan kaldu nabati bernama MIRA-Dashi yang mampu meniru cita rasa ayam dan seafood, menjawab lonjakan permintaan makanan halal dan vegan di tengah derasnya arus wisatawan mancanegara ke Jepang. Produk yang dikomersialkan sejak 2023 ini menjadi angin segar bagi industri kuliner yang selama ini kesulitan menyediakan opsi ramah bagi muslim dan vegetarian.
Berbeda dengan kaldu tradisional Jepang yang lazim menggunakan ikan bonito atau tulang hewan, MIRA-Dashi dibuat dari minyak nabati dan kedelai. Inovasi ini dinilai langka oleh Japan Halal Association, karena sedikit perusahaan Jepang yang memproduksi kaldu nabati dengan profil rasa menyerupai daging atau ikan. Kehadirannya langsung disambut oleh jaringan ramen populer Ippudo, yang mulai mengadopsi produk tersebut dalam beberapa menu.
Di kafe Pivot BASE yang terletak di kawasan wisata Dotombori, Osaka, ramen tonkotsu dan tantanmen berbasis MIRA-Dashi menjadi favorit pengunjung asing. Seorang wisatawan vegetarian asal India yang datang bersama keluarganya memuji kekayaan rasa kaldu tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan makanan inklusif tidak hanya terbatas pada komunitas muslim, tetapi juga menjangkau wisatawan dengan preferensi diet khusus lainnya.
Fuji Oil tidak berhenti di Osaka. Perusahaan ini memperluas distribusi ke restoran di kawasan wisata dan hotel di Tokyo. Sebuah restoran tradisional di Gunung Koya, Wakayama, yang menyajikan shojin ryori (masakan vegetarian Buddha), menawarkan ramen dengan campuran MIRA-Dashi dan minyak wijen. Saus celup rasa bonito berbasis kaldu ini juga telah diedarkan di wilayah Kansai. Langkah ini mencerminkan strategi Fuji Oil untuk menembus segmen pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan yang mencari pengalaman kuliner autentik namun tetap sesuai keyakinan.
Menurut Japan Halal Association, restoran yang melayani muslim di Jepang masih terkonsentrasi di Tokyo, Osaka, dan beberapa daerah dengan komunitas muslim besar. Namun, gelaran World Exposition di Osaka tahun lalu mendorong peningkatan permintaan makanan halal di berbagai restoran di seluruh Jepang. Tsutomu Saito, kepala departemen bahan perasa Fuji Oil, menegaskan bahwa produk ini merespons keragaman kebutuhan diet yang terus tumbuh, dan respons dari luar negeri sangat positif.
Bagi Indonesia, inovasi ini membuka peluang sekaligus tantangan. Dengan jumlah wisatawan muslim yang besar, Indonesia bisa menjadi pasar potensial bagi produk serupa. Namun, produsen lokal perlu berinovasi untuk menciptakan kaldu nabati yang tidak hanya halal, tetapi juga sesuai selera lidah Nusantara. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, seperti yang dilakukan Izumisano, bisa menjadi model untuk mengembangkan ekosistem makanan inklusif di destinasi wisata Indonesia.
Hiroyasu Chiyomatsu, wali kota Izumisano, menyatakan antusiasme membangun lingkungan pangan tanpa hambatan dan memperkuat kesiapan menyambut wisatawan internasional. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengikuti jejak Jepang dalam menciptakan lanskap kuliner yang ramah bagi semua?



