Tuchel Tenang Hadapi Meksiko: Suporter Ramah, Altitude Bukan Masalah
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Inggris Thomas Tuchel meremehkan kekhawatiran akan perlakuan di Meksiko, menyebut suporter tuan rumah ramah dan penuh hormat.
- Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia melawan Meksiko akan digelar di Estadio Azteca yang memiliki ketinggian 2.240 meter, memicu tantangan fisik bagi pemain.
- Tuchel menegaskan timnya siap menghadapi tekanan suporter dan altitude, dengan keyakinan pada semangat dan komitmen skuad.

Pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, menepis kekhawatiran tentang potensi gangguan selama bertanding di Meksiko, justru memuji sambutan hangat dan rasa hormat dari para penggemar tuan rumah. Menjelang laga hidup mati babak 16 besar Piala Dunia, ia mengaku pengalaman yang dialami timnya jauh lebih baik dari perkiraan.
Inggris akan menghadapi Meksiko di Estadio Azteca, Stadion Azteca, Minggu (18:00 waktu setempat) atau Senin dini hari WIB. Kedatangan skuad The Three Lions di Mexico City disambut campuran sorak dan cemoohan, dengan pengamanan diperketat setelah keluhan dari Ekuador terkait kebisingan suporter Meksiko sebelum pertandingan sebelumnya. Anggota Garda Nasional berjajar di depan hotel tim, sementara polisi antihuru-hara berjaga di jalan.
"Kami tidak mengalami masalah apa pun malam ini, dan saya pikir FIFA telah menangani situasi dengan baik," ujar Tuchel. "Kami memiliki pengamanan di sekitar hotel, jadi kami berharap bisa tidur nyenyak. Saya tidak ingin membicarakan masalah yang belum ada. Jika datang, kami akan menerimanya. Pendekatan terbaik adalah tetap rileks dan tenang."
Tuchel juga menyinggung tantangan altitude atau ketinggian yang menjadi momok bagi tim tamu. Stadion Azteca berada di ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut, menyebabkan udara tipis dan oksigen lebih sedikit. Hal ini bisa memicu detak jantung meningkat, sesak napas, dan kelelahan lebih cepat. Pelatih asal Jerman itu mengaku merasakan sakit kepala ringan sejak tiba, namun yakin para pemain bisa beradaptasi.
"Kami merasakannya bahkan saat tidak berlatih. Saya merasa sedikit sakit kepala sepanjang hari, misalnya. Saya tidak tidur seenak hari-hari sebelumnya, tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa ditangani," jelasnya. "Para pemain merasakannya di menit-menit awal latihan, tapi semakin lama mereka bisa mengatasinya. Ini bukan kebetulan Meksiko memulai pertandingan dengan kuat dan agresif; 15-20 menit pertama mungkin yang terberat. Setelah kami melewatinya, saya pikir kami berada di posisi yang baik."
Kekacauan jadwal sempat terjadi ketika FIFA berencana memajukan pertandingan enam jam lebih awal menjadi pukul 12:00 waktu setempat, sebelum akhirnya membatalkan keputusan tersebut. Tuchel menanggapi dengan tenang, mengatakan para pemain tidak menyadari perubahan itu. "Di dalam gelembung (tim) cukup tenang. Para pemain tidak tahu ada kemungkinan perubahan kick-off. Contoh ini menunjukkan untuk tidak kehilangan kepalaโkami tidak bisa memengaruhinya. Tiga setengah jam kemudian, Anda mendarat di Meksiko dan waktu kick-off tetap sama. Tidak ada gunanya pusing," katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena menyajikan duel antara tim Eropa yang diunggulkan dengan tuan rumah yang didukung suporter fanatik. Meksiko dikenal memiliki basis penggemar yang keras dan kreatif dalam memberikan dukungan, seperti yang dialami Ekuador. Namun, Tuchel menegaskan timnya tidak gentar. "Kami memiliki semangat, komitmen, kemauan murni, dan lem perekat dalam tim untuk mengatasi hal-hal ini. Kami tahu apa yang akan datang. Tapi itulah indahnya," pungkasnya.
Pertandingan ini diprediksi berjalan sengit. Akankah Inggris mampu menaklukkan altitude dan tekanan suporter Meksiko, atau justru tuan rumah yang memanfaatkan keunggulan kandang untuk melaju ke perempat final?



