Upacara Bendera di Kedalaman 8 Meter: Dispar Kaltim Pamerkan Pesona Bawah Laut Pulau Miang
Baca dalam 60 detik
- Dispar Kaltim menggelar upacara HUT RI ke-81 di bawah laut Karang Latohan, Pulau Miang, Kutai Timur, sebagai strategi promosi wisata bahari.
- Lokasi upacara dialihkan dari habitat hiu tutul ke Karang Latohan karena cuaca buruk, namun tetap berjalan lancar.
- Aksi ini diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Pulau Miang yang selama ini kurang dikenal dibanding Talisayan.

Pulau Miang, sebuah gugusan karang di perairan Kutai Timur, menjadi saksi upacara bendera yang tak lazim: Sang Saka Merah Putih dikibarkan di kedalaman delapan meter oleh para penyelam, Senin (17/8). Aksi ini bukan sekadar perayaan HUT ke-81 RI, melainkan juga upaya terukur Dinas Pariwisata Kalimantan Timur (Dispar Kaltim) untuk mengangkat potensi wisata bahari yang selama ini terpinggirkan.
Kepala Dispar Kaltim, Muhammad Faisal, memimpin langsung prosesi yang berlangsung di Karang Latohan tersebut. Bersama tim dari Yekhalis Scuba School, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan awak media, ia menempuh perjalanan sembilan jam untuk mencapai lokasi. "Kami ingin menumbuhkan nasionalisme sekaligus memperkenalkan keindahan Pulau Miang," ujarnya kepada Antara di Kutai Timur.
Upacara berjalan khidmat di bawah air. Faisal bertindak sebagai inspektur upacara, membacakan Teks Proklamasi dan Pancasila. Pembawa bendera Desy Novianti, dibantu Muchlis Efendi dan Jarot DM Arizona, mengibarkan bendera di habitat terumbu karang. Setelah prosesi inti, para penyelam melakukan pawai bawah laut sambil membawa Merah Putih sebagai simbol kecintaan pada tanah air.
Rencana awal memang lebih ambisius: pengibaran hendak dilakukan di habitat hiu tutul (whale shark) yang menjadi ikon wisata Kaltim. Namun, cuaca buruk dan angin kencang memaksa panitia mengalihkan lokasi ke Karang Latohan. Meski demikian, Faisal menegaskan kegiatan alternatif ini tetap sukses dan tidak mengurangi makna peringatan.
Pemilihan Pulau Miang bukan tanpa alasan. Faisal menilai destinasi ini memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan Talisayan di Berau yang lebih dulu populer berkat kemunculan hiu tutul. "Selama ini masyarakat lebih mengenal Talisayan, padahal Pulau Miang juga punya potensi serupa," katanya. Dengan publikasi aksi bawah laut ini, Dispar Kaltim berharap kunjungan wisatawan ke Pulau Miang meningkat dan sektor pariwisata daerah tumbuh lebih merata.
Bagi Indonesia, langkah Dispar Kaltim ini menjadi contoh bagaimana perayaan hari besar bisa diintegrasikan dengan promosi destinasi. Di tengah persaingan ketat sektor pariwisata antarprovinsi, kreativitas semacam ini penting untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Apalagi, Kaltim tengah gencar membangun citra sebagai tujuan ekowisata bahari, tidak hanya mengandalkan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang dibangun.
Namun, di balik suksesnya acara, muncul pertanyaan: apakah publikasi sesaat cukup untuk mendongkrak kunjungan secara berkelanjutan? Dibutuhkan strategi jangka panjang, seperti perbaikan aksesibilitas, fasilitas penyelaman, dan pengelolaan lingkungan yang lestari. Tanpa itu, Pulau Miang bisa tetap menjadi permata tersembunyi yang jarang dijamah.
Ke depan, langkah Dispar Kaltim perlu diikuti dengan pengembangan produk wisata yang terintegrasi, misalnya paket diving yang menggabungkan Pulau Miang dengan destinasi lain di Kutai Timur. Apakah pemerintah daerah siap berinvestasi lebih untuk mewujudkan itu? Waktu yang akan menjawab, tetapi inisiatif seperti ini setidaknya telah menempatkan Pulau Miang di peta wisata Indonesia.



