Teratai Purba Berusia Ribuan Tahun Mekar Sempurna di Jepang, Jadi Daya Tarik Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 120.000 tanaman teratai dari 42 varietas, termasuk teratai purba Gyoda, mencapai puncak mekar di Taman Teratai Purba, Saitama, Jepang.
- Bunga yang diyakini mempertahankan bentuk aslinya selama ribuan tahun ini hanya mekar dari pukul 06.00 hingga siang hari, menarik pengunjung sejak pagi buta.
- Fenomena ini tidak hanya menjadi atraksi wisata musim panas, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan botani yang langka, relevan bagi peneliti dan pecinta alam di Indonesia.

Puluhan ribu bunga teratai purba yang dipercaya telah ada sejak ribuan tahun lalu kini tengah mencapai puncak mekarnya di Taman Teratai Purba, Gyoda, Prefektur Saitama, Jepang, menyedot perhatian wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin menyaksikan keindahan musim panas yang langka ini.
Taman yang menjadi rumah bagi teratai Gyodaโdikenal pula sebagai "teratai purba" karena bentuk dan penampilannya diyakini tidak berubah selama ribuan tahunโmenanam sekitar 120.000 tanaman dari 42 varietas berbeda. Teratai Gyoda sendiri telah ditetapkan sebagai monumen alam kota, menjadikannya salah satu warisan botani paling berharga di kawasan Kanto.
Keunikan lain dari bunga ini adalah siklus mekarnya yang singkat: mulai terbuka sekitar pukul 06.00 pagi dan kembali menutup menjelang tengah hari. Banyak pengunjung sengaja datang sejak subuh untuk mengabadikan momen saat kelopak bunga merekah sempurna di bawah sinar matahari pagi. Pemandangan ini hanya bisa dinikmati hingga awal Agustus setiap tahunnya.
Fenomena teratai purba ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Para ahli botani meyakini bahwa varietas Gyoda merupakan salah satu contoh tertua dari spesies Nelumbo nucifera yang masih bertahan dengan karakteristik genetik hampir tanpa perubahan. Hal ini menjadikannya objek studi penting bagi peneliti evolusi tanaman dan adaptasi lingkungan.
Bagi Indonesia, keberadaan teratai purba ini dapat menjadi inspirasi dalam upaya konservasi tanaman air asli Nusantara, seperti teratai raksasa Victoria amazonica atau lotus lokal yang tersebar di danau-danau Kalimantan dan Sumatera. Pengelolaan taman botani berbasis warisan alam seperti di Gyoda bisa menjadi model ekowisata yang memadukan pelestarian dan edukasi.
Menurut pengelola taman, lonjakan pengunjung tahun ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata alam yang tenang dan sarat makna sejarah. โKami melihat banyak keluarga dan fotografer datang lebih awal. Mereka tidak hanya ingin foto, tetapi juga merasakan ketenangan pagi di tengah bunga yang telah ada sejak zaman samurai,โ ujar seorang pejabat taman setempat.
Dengan musim mekar yang masih berlangsung hingga awal Agustus, para pelancong yang berencana ke Jepang masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan keajaiban alam ini. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu mengelola potensi serupa dari kekayaan flora airnya yang tak kalah unik?



