Batistuta Sindir Italia, Tapi Tak Berani Pilih Messi atau Maradona
Baca dalam 60 detik
- Legenda Serie A, Gabriel Batistuta, mengaku tidak menikmati bermain sepak bola karena tekanan tanggung jawab dan rasa sakit fisik.
- Ia menilai pelatih Argentina Lionel Scaloni sukses karena hubungan harmonis dengan pemain, bukan taktik rumit.
- Batistuta enggan membandingkan Messi dan Maradona, menyebut perdebatan itu sepele dan tidak ada jawaban pasti.

Legenda sepak bola Argentina, Gabriel Batistuta, melontarkan sindiran tajam kepada publik Italia saat ditanya soal kans timnas Argentina di Piala Dunia. Namun, ketika disodorkan pertanyaan klasik siapa yang lebih hebat antara Lionel Messi dan Diego Maradona, pria yang dijuluki "Batigol" itu justru mengelak dan menyebutnya sebagai pertanyaan remeh.
Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Jumat (14/6), Batistuta berbicara panjang lebar tentang kariernya, timnas Argentina, dan pandangannya terhadap sepak bola modern. Ia mengaku tidak menikmati masa-masa menjadi pemain profesional karena beban ekspektasi yang sangat besar. "Saya tidak menikmati bermain sepak bola, sebagian karena rasa sakit, sebagian karena saya tahu orang-orang membayar untuk melihat saya. Saya tidak mengizinkan diri saya bersenang-senang," ujarnya.
Batistuta, yang kini menjadi peternak sapi di kampung halamannya di Reconquista, juga melontarkan kritik halus kepada Italia saat ditanya apakah Argentina akan mudah melewati babak 32 besar melawan Cape Verde. "Tenang... Kalian orang Italia tidak bisa bicara soal pertandingan mudah," katanya bercanda. Ia menekankan bahwa fase gugur sangat berbeda dengan fase grup, dan sepak bola penuh dengan ketidakpastian.
Mengenai pelatih Lionel Scaloni, Batistuta memberikan pujian. Menurutnya, kunci sukses Scaloni bukanlah taktik rumit, melainkan hubungan baik dengan pemain. "Jujur saja, ini sepak bola; Anda tidak perlu mempelajarinya seperti pergi ke bulan. Jika pelatih dan tim memiliki hubungan yang baik, itu pencapaian besar: semua orang akan mengikuti idenya. Dan Scaloni berhasil dalam hal itu," jelasnya.
Ketika ditanya apakah ia merindukan menjadi pesepak bola, jawaban Batistuta mengejutkan. "Tidak ada. Saya tidak menikmati bermain sepak bola," katanya. Ia mengaku selama 40 tahun bersikap keras pada dirinya sendiri, dan kini ia menjalani sisa hidup dengan sukacita. "Saya punya sapi di pedesaan Reconquista, kampung halaman saya. Biasanya saya mengelolanya, tapi kadang saya perlu merawatnya langsung, dan saya lakukan. Lalu saya bepergian dengan FIFA Legends, dan itu sangat menyenangkan," tambahnya.
Soal Fiorentina, klub yang membesarkan namanya, Batistuta mengaku sudah agak menjauh. Ia tahu klub tersebut baru menunjuk Fabio Grosso sebagai pelatih dan berencana kembali ke Florence untuk perayaan 100 tahun klub pada akhir musim panas.
Puncak wawancara adalah ketika jurnalis Gazzetta bertanya apakah ia lebih memilih Messi atau Maradona. Batistuta menjawab dengan nada sinis: "Hei, mereka bilang ini wawancara serius, bukan yang sepele. Kenyataannya, kami juga bertanya pada diri sendiri pertanyaan itu... dan kami tidak punya jawaban." Pernyataan ini menegaskan bahwa bahkan legenda Argentina pun enggan terjebak dalam perdebatan abadi yang telah memecah belah penggemar sepak bola di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perdebatan Messi vs Maradona juga kerap menjadi topik hangat di media sosial dan forum diskusi. Namun, sikap Batistuta yang menolak memilih justru memberikan perspektif baru: bahwa membandingkan dua legenda dari era berbeda mungkin tidak relevan. Yang lebih penting, menurut Batistuta, adalah bagaimana seorang pemain menjalani karier dan memberikan dampak bagi timnya.
Ke depan, Argentina akan menghadapi tantangan berat di Piala Dunia. Scaloni harus membuktikan bahwa kesuksesan empat tahun lalu bukanlah kebetulan. Sementara itu, Batistuta akan terus menikmati kehidupan barunya sebagai peternak dan duta FIFA Legends, meninggalkan dunia sepak bola yang pernah membuatnya menderita.



