Kanada dan Filipina Perkuat Kemitraan Strategis: Langkah Ottawa Kurangi Ketergantungan pada AS
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr sepakat memperluas kerja sama perdagangan, energi, dan pertahanan.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi Ottawa mengurangi ketergantungan ekonomi pada AS, dengan target menggandakan ekspor non-AS dalam satu dekade.
- Kesepakatan perdagangan bebas bilateral diharapkan rampung sebelum KTT ASEAN di Manila, November mendatang.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. pada Kamis (2/7) mengumumkan komitmen untuk memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, energi, dan keamanan. Langkah ini menjadi sinyal jelas bahwa Ottawa tengah mempercepat diversifikasi ekonomi keluar dari bayang-bayang Amerika Serikat, sekaligus memperdalam keterlibatannya di kawasan Indo-Pasifik.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Vancouver, Carney menyebut komunitas Filipina-Kanada yang berjumlah sekitar satu juta jiwa sebagai "jantung" hubungan bilateral. Ia menekankan bahwa kedua negara memiliki potensi besar untuk saling menguntungkan, terutama dalam sektor energi dan mineral kritis. "Kami memiliki aspirasi yang sama tentang apa yang ingin kami capai di dunia," ujar Marcos menanggapi.
Kedua pemimpin berkomitmen untuk melanjutkan negosiasi perjanjian perdagangan bebas (FTA) bilateral, serta memperkuat kerja sama pertahanan dan maritim di Indo-Pasifik. Carney berharap negosiasi tersebut dapat diselesaikan sebelum kunjungannya ke Manila pada November mendatang, yang bertepatan dengan KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang akan dipimpin oleh Filipina.
Langkah ini tidak lepas dari tekanan tarif yang diberlakukan AS terhadap mitra dagangnya, termasuk Kanada. Carney secara terbuka menyatakan bahwa kebijakan tarif Amerika telah menyebabkan "pendinginan investasi" dan mendorong Ottawa untuk mencari pasar alternatif. Dengan menggandakan ekspor non-AS, Kanada berharap dapat mengurangi kerentanan ekonominya terhadap fluktuasi kebijakan Washington.
Bagi Indonesia, dinamika ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai anggota ASEAN, Indonesia dapat memanfaatkan momentum negosiasi FTA Kanada-ASEAN yang juga tengah berlangsung. Namun, persaingan dengan Filipina dalam menarik investasi dan akses pasar Kanada perlu diantisipasi. Apalagi, sektor mineral kritisโyang menjadi salah satu fokus kerja samaโjuga menjadi prioritas Indonesia dalam pengembangan industri baterai dan kendaraan listrik.
Ke depan, keberhasilan kemitraan Kanada-Filipina akan menjadi ujian bagi strategi diversifikasi ekonomi Ottawa. Apakah model kerja sama ini dapat direplikasi dengan negara ASEAN lain, termasuk Indonesia? Atau justru akan menciptakan hierarki baru dalam hubungan ekonomi kawasan? Jawabannya akan bergantung pada kemampuan masing-masing negara dalam menawarkan insentif yang kompetitif dan kepastian regulasi.



