China Uji Coba Rudal Balistik di Pasifik, Picu Kekhawatiran Kawasan
Baca dalam 60 detik
- Angkatan Laut China mengkonfirmasi peluncuran rudal strategis dari kapal selam nuklir ke Samudra Pasifik pada 6 Juli, setelah negara-negara tetangga mendapat pemberitahuan.
- Uji coba ini bertepatan dengan latihan gabungan China-Rusia di Laut Kuning, meningkatkan spekulasi tentang keterkaitan kedua operasi militer tersebut.
- Langkah Beijing menandai pola baru kehadiran rudal jarak jauh di Pasifik, yang menurut analis dapat mengubah keseimbangan keamanan regional termasuk di kawasan Indo-Pasifik yang menjadi perhatian Indonesia.

China kembali menggelar uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua di Samudra Pasifik, Senin (6/7), menandai eskalasi demonstrasi kekuatan militer di kawasan yang selama ini dijaga sebagai zona bebas nuklir. Peluncuran yang dilakukan dari kapal selam bertenaga nuklir itu dikonfirmasi langsung oleh juru bicara Angkatan Laut China, Wang Xuemeng, melalui akun resmi WeChat milik angkatan laut.
Dalam pernyataannya, Wang menyebut rudal yang membawa hulu ledak latihan simulasi itu mendarat tepat di area yang telah ditentukan di perairan internasional Pasifik. โUji coba ini merupakan bagian rutin dari latihan militer tahunan China, dan negara-negara terkait telah diberitahu sebelumnya,โ ujarnya. Namun, pernyataan itu tidak menyebut secara spesifik jenis rudal yang digunakan maupun jangkauan persisnya.
Peluncuran terjadi di hari yang sama dengan dimulainya latihan angkatan laut gabungan China-Rusia di lepas pantai Qingdao, pelabuhan militer utama di timur China. Belum jelas apakah uji coba rudal tersebut merupakan bagian dari latihan bersama itu, tetapi waktu yang berdekatan memicu spekulasi tentang koordinasi strategis kedua negara.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Papua Niugini, Justin Tkatchenko, mengungkapkan bahwa Duta Besar China secara pribadi menghubunginya untuk memberi tahu rencana uji coba tersebut. Sumber pemerintah Selandia Baru juga membenarkan telah mendapat peringatan serupa. Namun, kedua negara tidak merinci lokasi pasti jatuhnya rudal.
Uji coba kali ini mengingatkan pada peluncuran rudal Dong Feng-31 oleh Pasukan Roket China pada September 2024, yang mendarat di dekat Polinesia Prancis. Rudal tersebut dinilai analis mampu membawa hulu ledak termonuklir dan merupakan uji coba pertama China dalam lebih dari 40 tahun di atas perairan internasional. Kini, dengan penggunaan kapal selam nuklir, China menunjukkan kemampuan serangan kedua (second-strike capability) yang lebih sulit dideteksi.
โAngkatan Pertahanan Selandia Baru secara internal memperingatkan bahwa penggelaran angkatan laut dan uji coba rudal balistik China akan menjadi fitur โpersistenโ di Pasifik,โ demikian bunyi dokumen internal yang diperoleh AFP bulan lalu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang berbatasan dengan Samudra Pasifik dan aktif dalam forum keamanan regional seperti ASEAN dan ARF, Indonesia perlu mencermati peningkatan aktivitas militer di kawasan. Rudal yang mampu menjangkau jarak antarbenua berarti dapat mencapai sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun China belum menargetkan secara spesifik. Lebih penting lagi, pola uji coba yang semakin sering dapat memicu perlombaan senjata di Pasifik dan menggeser fokus keamanan dari Laut China Selatan ke Pasifik Selatan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana China akan terus mengintensifkan uji coba rudal di Pasifik, dan bagaimana negara-negara seperti Australia, Jepang, serta Amerika Serikat akan merespons. Bagi Indonesia, menjaga netralitas dan mendorong dialog multilateral menjadi kunci, namun tanpa mengabaikan perlunya memperkuat kewaspadaan terhadap setiap perubahan postur militer di lingkungan strategisnya.



