Kekerasan di Daycare Capgemini: Celah Regulasi Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pekerja daycare di Bengaluru ditangkap setelah video menunjukkan balita dimasukkan ke mesin cuci dan toilet.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang lemahnya pengawasan daycare perusahaan di India, yang diatur oleh aturan negara bagian yang longgar.
- Kasus ini menjadi peringatan bagi Indonesia, di mana daycare perusahaan juga belum memiliki regulasi ketat.

Polisi di Bengaluru, India selatan, menangkap seorang pekerja daycare yang diduga melakukan kekerasan terhadap balita di fasilitas penitipan anak milik perusahaan teknologi raksasa Capgemini. Penangkapan terjadi setelah video yang memperlihatkan pekerja perempuan tersebut mengurung anak-anak di toilet dan mesin cuci, serta menyemprot mereka dengan air, viral di media sosial.
Video tersebut, yang diterima oleh unit perlindungan anak setempat dari penelepon anonim, menunjukkan tindakan kasar yang dilakukan di dalam toilet tanpa pengawasan kamera CCTV. Pejabat perlindungan anak Thilakesh Kumar menindaklanjuti laporan itu dan menemukan bukti penyiksaan. Polisi kemudian mendaftarkan kasus terhadap lima karyawan daycare tersebut berdasarkan KUHP India dan undang-undang peradilan anak.
Komisaris Polisi Bengaluru Seemant Kumar Singh mengonfirmasi bahwa tersangka utama, Vijayalakshmi, telah ditahan. Dua pengasuh lainnya juga telah diperiksa. Capgemini, dalam pernyataannya, menutup sementara fasilitas daycare di kampus Brookfield dan menyatakan bekerja sama penuh dengan otoritas. Namun, insiden ini menyoroti celah besar dalam regulasi daycare perusahaan di India.
Berbeda dengan sekolah yang memiliki aturan ketat, daycare di India beroperasi di bawah campuran peraturan negara bagian, kotamadya, dan lisensi lokal. Standar mereka bervariasi, dan implementasi aturan sering kali longgar. Menteri Dalam Negeri Karnataka, Priyank Kharge, mengatakan pemerintah sedang menyelidiki masalah ini dan akan menindak mereka yang melanggar aturan. Komisi Nasional Perlindungan Hak Anak juga akan mengunjungi fasilitas tersebut.
Fenomena daycare perusahaan di India berkembang pesat seiring upaya korporasi menarik dan mempertahankan talenta, terutama di sektor teknologi. Namun, insiden ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai. Di Indonesia, tren serupa juga mulai terlihat, dengan banyak perusahaan teknologi dan startup menyediakan daycare di kantor. Namun, regulasi yang mengatur fasilitas ini masih minim, sehingga rentan terhadap penyalahgunaan.
Kasus Capgemini menjadi pengingat bahwa keselamatan anak di daycare perusahaan harus menjadi prioritas. Tanpa kerangka hukum yang jelas dan pengawasan ketat, insiden serupa bisa terjadi di mana saja. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia siap mengadopsi regulasi daycare yang lebih ketat sebelum kasus serupa mencuat?



