Pria California Mengaku Kirim Tuntutan Tebusan Palsu untuk Hilangnya Ibu Savannah Guthrie
Baca dalam 60 detik
- Derrick Callela mengaku bersalah atas dua tuduhan pelecehan setelah mengirim pesan teks dan telepon palsu yang menuntut bitcoin untuk pembebasan Nancy Guthrie.
- FBI masih menyelidiki beberapa catatan tebusan yang mungkin asli, sementara keluarga korban menghadapi tekanan dari hoaks yang memperkeruh penyelidikan.
- Kasus ini menyoroti kerentanan keluarga korban kejahatan terhadap eksploitasi digital, yang juga relevan dengan maraknya penipuan serupa di Indonesia.

Seorang pria asal California, Derrick Callela (42), mengaku bersalah atas pengiriman tuntutan tebusan palsu terkait hilangnya Nancy Guthrie, ibu dari pembawa acara Today, Savannah Guthrie. Callela terancam hukuman dua tahun penjara dan denda hingga 250 ribu dolar AS setelah mengirim pesan teks dan melakukan panggilan telepon pada 4 Februari lalu yang meminta transfer bitcoin sebagai imbalan atas pengembalian Nancy.
Nancy Guthrie, 84 tahun, dilaporkan hilang dari rumahnya di Arizona sejak 1 Februari. Dalam pengakuannya, Callela menyadari bahwa tuntutan tebusan sebelumnya telah dibuat, dan tindakannya dimaksudkan untuk melecehkan keluarga dengan mencari informasi tentang penyelidikan. Jaksa Wilayah Arizona menyatakan bahwa Callela mengakui perbuatannya sebagai upaya mengganggu proses investigasi.
Sheriff Pima County, Chris Nanos, mengungkapkan bahwa sejumlah orang telah ditangkap karena mengirim catatan tebusan palsu serupa. Dalam wawancara dengan stasiun radio Tucson, ia menyesalkan penyalahgunaan perhatian publik yang seharusnya membantu penyelidikan. “Orang-orang yang menelepon dengan catatan tebusan palsu, yang mengklaim demi media dan keluarga, mereka mengganggu—dalam kasus ini—seluruh lingkungan,” ujarnya.
FBI, yang turut menangani kasus ini, mengonfirmasi bahwa beberapa catatan tebusan yang diterima mungkin mengandung informasi asli tentang hilangnya Nancy. Dalam pernyataan resmi, FBI menulis bahwa meskipun beberapa pesan dianggap sebagai upaya pemerasan tanpa legitimasi, tuntutan lainnya berpotensi sah dan masih diselidiki. Kasus ini terus diperlakukan sebagai penculikan untuk tebusan.
Savannah Guthrie, yang kembali bertugas setelah cuti, sebelumnya mengecam catatan tebusan palsu yang diterima keluarganya. Dalam acara Today, ia menyatakan bahwa sebagian besar catatan tidak nyata, namun dua catatan yang mereka tanggapi diyakini asli. “Orang yang mengirim catatan tebusan palsu benar-benar harus melihat ke dalam diri mereka sendiri pada keluarga yang sedang berduka,” ujarnya.
Fenomena tuntutan tebusan palsu ini mengingatkan pada kasus serupa di Indonesia, di mana keluarga korban penculikan atau orang hilang kerap menjadi sasaran penipuan. Maraknya modus pemerasan melalui telepon atau pesan singkat menuntut uang tebusan dengan memanfaatkan kepanikan keluarga menjadi perhatian aparat. Kepolisian Indonesia pun terus mengimbau masyarakat untuk waspada dan segera melapor jika menerima permintaan mencurigakan.
Ke depan, kasus ini membuka pertanyaan tentang bagaimana penegak hukum dapat membedakan antara tuntutan tebusan asli dan palsu di tengah banjir informasi. Dengan hukuman berat bagi pelaku, diharapkan efek jera dapat mengurangi praktik keji yang menambah derita keluarga korban.



