Murakami Berani Bereksperimen: Novel Perdana dengan Protagonis Perempuan
Baca dalam 60 detik
- Haruki Murakami meluncurkan 'The Tale of KAHO', novel pertamanya yang berfokus pada satu tokoh utama perempuan, sebuah terobosan dalam kariernya.
- Kisah berawal dari kencan buta yang berubah aneh, menghadirkan elemen surealis khas Murakami seperti trenggiling dan macan kumbang.
- Novel setebal 352 halaman ini baru tersedia dalam bahasa Jepang; rencana penerjemahan belum diumumkan, menimbulkan antisipasi di kalangan penggemar global.

Haruki Murakami, maestro sastra Jepang yang dikenal dengan protagonis pria dalam karya-karyanya, akhirnya meluncurkan novel penuh pertama yang menempatkan seorang perempuan sebagai tokoh utama. 'The Tale of KAHO' resmi beredar di Jepang pada Jumat lalu, disambut antusiasme puluhan penggemar yang mengikuti acara hitung mundur di sebuah toko buku besar Tokyo.
Penerbit Shinchosha mengonfirmasi bahwa novel ini merupakan yang pertama bagi Murakami yang secara eksklusif mengikuti perjalanan seorang tokoh perempuan. Kaho, seorang penulis buku bergambar berusia 26 tahun, digambarkan sebagai wanita biasa yang mulai mengalami kejadian-kejadian ganjil setelah sebuah kencan buta. Dalam pernyataan yang dirilis melalui situs kampanye, Murakami mengaku menulis novel ini dengan membayangkan dirinya berada di posisi Kaho.
Langkah ini dinilai berani mengingat selama puluhan tahun Murakami identik dengan tokoh-tokoh pria, seperti Toru Watanabe di 'Norwegian Wood' atau Kafka Tamura di 'Kafka on the Shore'. Menurut pengamat sastra, pergeseran perspektif ini bisa menjadi titik balik dalam karier penulis berusia 77 tahun tersebut, sekaligus menjawab kritik yang selama ini menyebut karyanya kurang mengeksplorasi sudut pandang perempuan.
Antusiasme penggemar terlihat jelas saat acara peluncuran. Naoyuki Yamano, pembeli pertama novel ini, mengaku penasaran dengan bagaimana cerita akan berkembang dengan tokoh utama perempuan. Sementara itu, Mizuki Shirota, seorang penggemar yang datang bersama kelompok klub baca Murakami, menyoroti cara penulis menggambarkan emosi tokoh perempuan. Ia merasa novel ini menyentuh isu 'lookism' atau penilaian berdasarkan penampilan fisik, yang jarang diangkat secara eksplisit dalam karya Murakami sebelumnya.
Alur cerita dimulai ketika Kaho menjalani kencan buta yang diatur editornya. Di tengah makan malam, pria itu berkata bahwa ia belum pernah melihat wanita sejelek Kaho. Bukannya marah, Kaho justru penasaran dan berusaha mengungkap maksud di balik kata-kata tersebut. Dari situlah petualangan aneh dimulai, termasuk pertemuannya dengan seekor trenggiling dan macan kumbangโelemen surealis yang menjadi ciri khas Murakami.
Bagi pembaca di Indonesia, kehadiran novel ini menarik perhatian karena Murakami memiliki basis penggemar yang cukup besar, terutama di kalangan pembaca urban. Penerbit lokal seperti Gramedia Pustaka Utama kerap menerjemahkan karya-karyanya, namun belum ada kepastian kapan 'The Tale of KAHO' akan tersedia dalam bahasa Indonesia. Mengingat tren penerjemahan novel Jepang di Indonesia yang terus meningkat, bukan tidak mungkin novel ini akan menyusul.
Murakami sendiri terakhir kali merilis novel penuh tiga tahun lalu, 'The City and Its Uncertain Walls', yang kembali menggunakan tokoh utama pria. Dengan eksperimen barunya ini, publik menanti apakah 'The Tale of KAHO' akan mampu mempertahankan daya tarik khas Murakami sambil membuka dimensi baru dalam narasinya. Akankah novel ini menjadi jembatan bagi Murakami untuk menjangkau lebih banyak pembaca perempuan? Atau justru akan menjadi catatan kaki dalam perjalanan sastranya? Hanya waktu yang bisa menjawab.



