Ransel di Kereta Jepang: Dari Tas Punggung ke Gendong Depan, Masih Sama Merepotkan
Baca dalam 60 detik
- Keluhan terhadap ransel di kereta Jepang melonjak dari 13,3% (2010) menjadi 37,3% (2018), menjadikannya masalah etiket nomor satu.
- Kebiasaan membawa ransel di depan tubuh ternyata juga menuai kritik, dengan 17,6% responden menganggapnya mengganggu pada 2025.
- Produsen tas merespons dengan model tipis, namun pengamat menilai akar masalah sesungguhnya adalah kepadatan kereta yang tak kunjung teratasi.

Di tengah hiruk-pikuk kereta Jepang yang padat, ransel yang digendong di punggung kerap menjadi sumber gesekan antarpengguna. Namun, solusi yang sempat populer—menggendong ransel di depan dada—ternyata tak lebih baik. Keluhan di media sosial pun bermunculan, menandakan bahwa masalah etiket ini belum menemukan titik terang.
Survei tahunan Asosiasi Kereta Api Swasta Jepang menunjukkan perubahan drastis persepsi publik. Pada 2010, hanya 13,3% responden yang merasa terganggu dengan cara penumpang membawa barang bawaan. Angka itu meroket menjadi 37,3% pada 2018, menjadikannya keluhan utama. Dari jumlah tersebut, 66,2% menyebut ransel atau tas selempang di punggung sebagai biang kerok. Fenomena ini memicu perdebatan: apa yang membuat ransel tiba-tiba begitu merepotkan?
Profesor Daisuke Tanaka dari Universitas Waseda, yang meneliti etiket kereta sejak era pra-Perang Dunia II, menjelaskan bahwa hingga 1990-an mayoritas pekerja kantoran menggunakan tas kerja kulit tipis. Isinya pun ringan, hanya dokumen dan koran. Memasuki 2000-an, beberapa faktor mendorong ransel menjadi pilihan utama: kampanye Cool Biz yang mempopulerkan pakaian kasual, maraknya ponsel pintar yang menyita satu tangan, serta laptop yang menjadi perlengkapan wajib seiring tren kerja jarak jauh.
Alih-alih menyelesaikan masalah, kebiasaan membawa ransel di depan justru melahirkan kritik baru. Survei 2025 mencatat 27,7% responden masih menganggap ransel di punggung tidak sopan, sementara 17,6% menyatakan hal serupa untuk ransel di depan. Produsen seperti Ace Co. merilis tas tipis "Gadgetable" setebal 10 cm yang ludes terjual 30.000 unit dalam tahun pertama. Namun, solusi teknis ini dinilai hanya menggeser masalah.
Profesor Tanaka mengkritik operator kereta yang dinilai mengalihkan tanggung jawab. "Masalah sesungguhnya adalah kepadatan berlebih yang seharusnya diatasi operator, bukan dibebankan ke penumpang sebagai urusan etiket pribadi," ujarnya. Operator di wilayah Kansai sempat mengampanyekan "gendong ransel di depan" pada 2018, lalu berubah menjadi "bawa ransel dengan tangan" pada 2023. Namun, bagi lansia, penyandang disabilitas, atau penumpang dengan anak, imbauan itu sulit diikuti.
Asosiasi Kereta Api Swasta Jepang hanya berkomentar singkat: "Kami meminta penumpang untuk saling mempertimbangkan." Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi di KRL Commuter Line, terutama pada jam sibuk. Ransel besar yang digendong di punggung atau depan kerap memicu ketegangan antarpengguna. Meski belum ada data resmi, keluhan di media sosial menunjukkan pola yang mirip. Belajar dari Jepang, solusi jangka pendek seperti tas tipis atau imbauan etiket mungkin tidak cukup tanpa perbaikan sistem transportasi massal yang lebih fundamental.
Tanpa pengurangan signifikan kepadatan kereta, konflik ransel ini tampaknya akan terus berulang. Pertanyaannya, mampukah operator dan penumpang menemukan titik temu di tengah keterbatasan ruang dan waktu?



