BRI Tebar KUR dan BRILink: Jurus Menjaga Pertumbuhan Kredit di Tengah Gejolak Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- BRI menargetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp180 triliun pada 2026, fokus pada sektor pertanian dan perdagangan.
- Layanan BRILink menjadi salah satu pilar strategi BRI memperluas akses keuangan hingga ke pelosok desa, mendorong inklusi dan pertumbuhan ekonomi lokal.
- Di tengah kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,75%, BRI tetap optimistis menjaga pertumbuhan kredit double digit dengan likuiditas yang longgar.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mempertahankan optimisme di tengah tekanan ekonomi global dengan mengandalkan dua jurus utama: penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang agresif dan perluasan layanan BRILink hingga ke desa-desa. Langkah ini menjadi penopang pertumbuhan kredit perbankan nasional yang masih menunjukkan tren positif, meskipun suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) telah naik 100 basis poin menjadi 5,75% sepanjang tahun ini.
Group CEO BRI, Hery Gunardi, dalam acara Economic Update yang disiarkan CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026), mengungkapkan bahwa peran bank sebagai lembaga intermediasi tetap krusial. Hingga Mei 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 10,8% secara tahunan (year on year) mencapai Rp9.698,7 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perbankan masih tinggi, meskipun ada tekanan dari kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) dan ketidakpastian geopolitik.
BRI, yang selama ini dikenal sebagai bank fokus pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mencatatkan akumulasi penyaluran KUR lebih dari Rp1.500 triliun sejak 2015. Pada 2026, perseroan menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp180 triliun, dengan alokasi utama ke sektor produktif seperti pertanian dan perdagangan. โKUR menjadi instrumen untuk mendorong usaha mikro naik kelas dan menggerakkan ekonomi di daerah,โ ujar Hery dalam wawancara dengan Andi Shalini.
Di sisi lain, BRI juga mengandalkan jaringan BRILink yang telah menjangkau lebih dari 500 ribu agen di seluruh Indonesia. Layanan ini memungkinkan transaksi perbankan dilakukan di warung-warung kecil di pedesaan, tanpa perlu mendirikan kantor cabang fisik. Strategi ini tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga mempercepat inklusi keuangan. Hery menegaskan bahwa likuiditas perbankan masih cukup longgar untuk mendukung ekspansi kredit, meskipun ada kekhawatiran terhadap pengetatan pasar akibat kenaikan BI rate dan yield SBN.
Bagi investor dan pelaku pasar, strategi BRI ini memberikan sinyal bahwa sektor perbankan nasional masih memiliki daya tahan. Pertumbuhan kredit double digit yang berkelanjutan, ditopang oleh permodalan yang kuat dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga, menjadi modal penting. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga margin bunga bersih (NIM) di tengah kenaikan biaya dana (cost of fund). BRI sendiri telah berupaya menekan cost of fund melalui optimalisasi dana murah (CASA) dan efisiensi operasional.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah agresivitas penyaluran KUR dan ekspansi BRILink cukup untuk mempertahankan momentum pertumbuhan di 2027? Atau justru risiko kredit akan meningkat seiring dengan melambatnya ekonomi global? Yang jelas, BRI tampaknya memilih untuk tetap bergerak maju, mengingat sektor UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.



