BRI Siapkan Jurus Baru: Buyback Saham Rp500 Miliar dan Rebranding ke Pasar Urban
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengalokasikan dana internal Rp500 miliar untuk buyback saham sebagai respons terhadap volatilitas pasar modal.
- Melalui program BRIvolution Reignite, bank pelat merah ini memperkuat transformasi digital dan efisiensi operasional di tengah kenaikan BI Rate ke 5,75%.
- Rebranding dan diversifikasi bisnis menjadi kunci BRI untuk merambah segmen nasabah kaya dan perkotaan tanpa meninggalkan basis UMKM di pedesaan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mematangkan strategi ekspansi ganda: mengakselerasi transformasi digital melalui program BRIvolution Reignite sekaligus mengumumkan pembelian kembali saham senilai Rp500 miliar. Langkah ini diambil di tengah tekanan suku bunga acuan yang mencapai 5,75% dan persaingan perbankan yang semakin ketat.
Group CEO BRI Hery Gunardi menegaskan bahwa buyback yang akan berlangsung pada 12 Juni hingga 11 September 2026 tersebut menggunakan kas internal perseroan. Menurutnya, keputusan ini merupakan respons korporasi terhadap dinamika pasar saham yang belum stabil, sekaligus sinyal kepercayaan manajemen terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Di sisi operasional, BRI menjalankan transformasi besar-besaran untuk menekan biaya dana (cost of fund) dan biaya kredit (cost of credit). Optimalisasi dilakukan melalui perampingan infrastruktur kantor cabang, perluasan layanan BRIlink, serta peningkatan transaksi digital lewat BRImo. Hery menyebutkan bahwa perbaikan proses bisnis di segmen kredit mikro telah berhasil meningkatkan pendapatan bunga sekaligus menekan pencadangan kerugian.
Tak hanya itu, BRI melakukan rebranding untuk memperluas basis nasabah. Jika selama ini identik dengan bank pedesaan dan UMKM, kini perseroan juga membidik segmen konsumer perkotaan, termasuk nasabah kaya dan private banking. Diversifikasi bisnis menjadi motor pertumbuhan baru, seiring dengan upaya menjaga kualitas aset di tengah kenaikan suku bunga.
Bagi investor Indonesia, langkah buyback ini menjadi katalis positif di tengah tekanan pasar. Namun, efektivitasnya akan bergantung pada konsistensi BRI dalam menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) dan pertumbuhan laba. Sementara bagi nasabah UMKM, transformasi digital diharapkan mempercepat akses pembiayaan tanpa mengorbankan layanan tatap muka yang sudah menjadi ciri khas BRI.
โTransformasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana kami tetap relevan di semua segmenโdari petani di desa hingga pengusaha di kota,โ ujar Hery Gunardi dalam acara Economic Update.
Ke depan, BRI harus membuktikan bahwa strategi dual-track ini mampu menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan. Pertanyaan yang mengemuka: mampukah bank pelat merah ini menyeimbangkan ekspansi urban dengan loyalitas terhadap segmen mikro yang menjadi tulang punggungnya?



