Mall Rongsok Depok: Ekonomi Sirkular Akar Rumput yang Bertahan Tanpa Subsidi
Baca dalam 60 detik
- Dua lapak barang bekas di Depok, Mall Rongsok dan Wisata Rongsok, telah menjalankan praktik reuse dan repair selama lebih dari dua dekade, menjadi contoh nyata ekonomi sirkular berbasis komunitas.
- Peneliti BRIN menilai model bisnis ini lebih tangguh daripada program daur ulang formal karena tidak bergantung pada anggaran negara, namun kontribusinya belum tergantikan dalam mengurangi timbulan sampah anorganik.
- Ke depan, tantangan utama adalah menjembatani sektor informal dengan kebijakan formal agar praktik serupa bisa direplikasi di kota-kota lain tanpa kehilangan karakter mandirinya.

Di tengah hiruk-pikuk Jalan Bungur Raya, Depok, deretan mesin ketik tua, kursi kafe, dan telepon kabel berdebu bukanlah pemandangan yang lazim. Namun, di balik tumpukan barang bekas itu, sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang mandiri justru bernapas โ mengubah sampah anorganik yang seharusnya berakhir di tempat pembuangan akhir menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.
Mall Rongsok dan Wisata Rongsok, dua lapak yang berjarak beberapa meter, telah menjadi ikon pengelolaan barang bekas di Depok. Sejak 2004, Sulis (51) merintis usaha ini dari nol, sebelum akhirnya mengadopsi nama 'Mall Rongsok' pada 2017. Kini, lapaknya dipenuhi furnitur dari restoran cepat saji ternama, bank, hingga hotel โ barang-barang yang diperoleh melalui lelang peremajaan aset perusahaan.
Konsep yang ditawarkan kedua lapak ini sengaja dibedakan. Mall Rongsok mengelompokkan barang berdasarkan jenisnya, memudahkan pengunjung mencari kebutuhan spesifik. Sementara Wisata Rongsok justru membiarkan barang bercampur aduk, mengundang pengunjung untuk berburu 'harta karun' โ sebuah pengalaman yang menurut Bento (56), karyawan bagian penjualan, sering kali menghasilkan temuan tak terduga yang sudah lama diidamkan.
Harga jual di Wisata Rongsok berkisar antara 30 hingga 50 persen dari harga baru, sebuah strategi yang membuat barang bekas tetap kompetitif di tengah gempuran produk baru. Bento menegaskan komitmen mereka pada kepuasan pelanggan, termasuk kebijakan pengembalian dana penuh jika barang tidak sesuai harapan. Di sisi lain, Mall Rongsok bahkan memiliki tim internal yang merekrut pekerja tanpa keahlian khusus, melatih mereka menjadi kreatif dan mandiri โ sebuah model pemberdayaan yang jarang ditemui di sektor formal.
Menariknya, Sulis mengaku tidak pernah menghitung omzet secara rinci. "Pokoknya kalau dapat duit ya kita bagi-bagi buat makan bareng," ujarnya, menggambarkan filosofi usaha yang lebih mengutamakan kebersamaan daripada akumulasi keuntungan. Meski belakangan ia merasakan penurunan pembeli akibat kondisi ekonomi yang sulit, Sulis tetap bertahan dengan prinsip "berjalan bagaikan air mengalir".
Ignasius D.A. Sutapa, Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan BRIN, melihat praktik ini sebagai wajah nyata ekonomi sirkular di tingkat akar rumput. "Tanpa subsidi pemerintah, tanpa teknologi mahal, mereka menyelamatkan ribuan ton barang anorganik setiap tahun," jelasnya. Menurut Sutapa, lapak rongsok menjalankan strategi reuse dan repair โ posisi tertinggi dalam hierarki ekonomi sirkular โ yang jauh lebih efisien daripada daur ulang karena tidak memerlukan energi untuk memproduksi barang baru.
Keunggulan struktural model bisnis ini, lanjut Sutapa, terletak pada independensinya dari birokrasi dan APBN. "Berbasis pasar, bukan subsidi. Harga ditentukan permintaan. Ini yang membuat sektor ini sangat tangguh," tegasnya. Namun, ia juga menggarisbawahi perlunya sinergi antara sektor formal dan informal: formal untuk edukasi dan data, informal untuk eksekusi dan ekonomi. "Keduanya harus dihubungkan, bukan dilawan," pesannya.
Bagi Indonesia, keberadaan Mall Rongsok dan Wisata Rongsok bukan sekadar cerita sukses lokal. Di tengah darurat sampah nasional, model ini menawarkan solusi yang terbukti berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan. Pertanyaannya, mampukah pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya merangkul sektor informal semacam ini tanpa mereduksi kemandiriannya? Atau justru sebaliknya, akankah praktik baik ini tetap berjalan sendiri, mengalir seperti air, tanpa perlu intervensi dari atas?



