Rehabilitasi Parkinson Rp48 Miliar di Singapura: 2.000 Pasien Jadi Sasaran Program KEEP
Baca dalam 60 detik
- Program KEEP menawarkan latihan fisik, terapi okupasi, dan dukungan psikologis bagi pasien Parkinson tahap awal hingga menengah.
- Inisiatif senilai S$4,48 juta ini akan menjangkau 2.000 pasien di Singapura melalui 13 pusat rehabilitasi harian pada 2027.
- Langkah ini menegaskan pentingnya rehabilitasi dini dan berkelanjutan, sekaligus menjadi contoh bagi negara lain seperti Indonesia.

Singapura meluncurkan program rehabilitasi komprehensif senilai S$4,48 juta (sekitar Rp53 miliar) untuk membantu sekitar 2.000 pasien Parkinson mempertahankan mobilitas dan kemandirian mereka. Inisiatif bernama Kickstart Exercise and Empower Parkinson’s (KEEP) ini diresmikan pada 17 Agustus oleh Lien Foundation bersama Parkinson Society Singapore (PSS), Tan Tock Seng Hospital (TTSH), dan National Neuroscience Institute (NNI).
KEEP dirancang untuk pasien pada tahap awal hingga menengah penyakit Parkinson, sebuah gangguan neurodegeneratif progresif yang ditandai dengan tremor, kekakuan otot, dan melambatnya gerakan. Program ini menggabungkan latihan kelompok terstruktur, terapi okupasi, serta dukungan kesehatan mental. Menurut Lien Foundation, rehabilitasi dini dan berkelanjutan sering kali kurang mendapat perhatian dibandingkan pengobatan medis, padahal ini adalah lini pertahanan pertama yang penting.
Lim Mui Huang, seorang pensiunan HRD berusia 61 tahun yang didiagnosis dua tahun lalu, merasakan manfaat nyata dari sesi latihan dua kali seminggu yang diikutinya sejak Juli. “Saya tidak membayangkan harus belajar lagi cara masuk dan keluar mobil,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa KEEP mengembalikan rasa percaya dirinya. Kisah Lim mencerminkan harapan baru bagi ribuan penderita Parkinson di Singapura, di mana prevalensi penyakit ini mencapai tiga dari 1.000 penduduk berusia di atas 50 tahun.
Program KEEP saat ini tersedia di lima pusat rehabilitasi harian, termasuk tiga di NTUC Health, satu di St Luke’s Hospital, dan satu di PSS. Pada 2027, layanan ini akan diperluas ke delapan pusat tambahan yang dikelola oleh enam penyedia layanan komunitas, termasuk AWWA dan Care Corner. Total 24 sesi latihan kelompok selama satu jam akan diberikan untuk meningkatkan kebugaran dan mengatasi tantangan gerakan, ditambah terapi okupasi dan fisioterapi untuk mencegah jatuh dan menjaga kemandirian.
Aspek unik dari KEEP adalah perhatian pada kesehatan mental. Pasien Parkinson rentan mengalami depresi, sehingga program ini menyertakan skrining kesehatan mental, intervensi psikologis, dan tiga minggu pelatihan rehabilitasi kognitif. Dukungan juga diberikan kepada pengasuh, yang sering kali mengalami beban psikologis dan praktis. “Bayangkan hidup dalam tubuh yang perlahan tidak patuh pada kita,” kata CEO Lien Foundation, Lee Poh Wah, saat peluncuran di pusat PSS Bishan.
Bagi Indonesia, inisiatif ini menjadi relevan mengingat jumlah penderita Parkinson yang terus meningkat seiring penuaan populasi. Meski data resmi masih terbatas, diperkirakan ratusan ribu orang di Indonesia hidup dengan penyakit ini, namun akses ke rehabilitasi komprehensif masih sangat terbatas. Program seperti KEEP bisa menjadi model bagi pengembangan layanan serupa di rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat, terutama di kota-kota besar.
Para ahli menekankan bahwa olahraga teratur dan rehabilitasi dapat memperlambat penurunan fungsi keseimbangan dan kemampuan berjalan. Namun, banyak pasien kesulitan untuk tetap aktif karena gejala yang mereka alami. “Mengetahui latihan yang aman saja tidak cukup; yang penting adalah seberapa banyak yang dibutuhkan,” kata Clinical Associate Professor Tay Kay Yaw dari NNI. “Apakah menyapu lantai dan pergi ke supermarket sudah cukup?” Pertanyaan ini menggarisbawahi perlunya panduan yang jelas dan terstruktur.
Dengan dukungan dana sebesar S$1,2 juta untuk pusat pelatihan kedua, PSS akan menjadi pelatih utama bagi mitra komunitas untuk meningkatkan standar rehabilitasi. Ke depannya, KEEP diharapkan tidak hanya membantu pasien di Singapura, tetapi juga menjadi inspirasi bagi negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi tantangan penyakit neurodegeneratif. Apakah Indonesia siap mengadopsi model serupa?



