G-Dragon Jadi Duta UNESCO untuk Sidang Warisan Dunia di Busan: Antara K-Pop dan Diplomasi Budaya
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi K-Pop G-Dragon ditunjuk sebagai duta kehormatan Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO di Busan, Korea Selatan, yang akan berlangsung 19-29 Juli 2026.
- Penunjukan ini menandai pertama kalinya Korea Selatan menjadi tuan rumah sidang tersebut dalam 38 tahun, sekaligus memperkuat peran soft power budaya pop dalam diplomasi internasional.
- G-Dragon akan mendukung kampanye global 'Heritage in Peace' yang menggalang dana untuk melindungi situs warisan dunia yang terancam konflik dan bencana alam.

Korea Selatan kembali memadukan kekuatan budaya pop dengan diplomasi internasional. Pemerintah setempat menunjuk Kwon Ji-yong, yang lebih dikenal sebagai G-Dragon, vokalis grup K-Pop legendaris BigBang, sebagai duta kehormatan untuk Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO yang akan digelar di Busan pada 19-29 Juli mendatang. Ini adalah kali pertama Negeri Ginseng menjadi tuan rumah pertemuan tahunan badan PBB yang bertugas menetapkan dan melindungi situs warisan budaya dan alam dunia.
Badan Warisan Budaya Korea (Korea Heritage Service) mengumumkan penunjukan tersebut pada Jumat (3/7) dengan alasan pengaruh global G-Dragon yang melampaui musik. Dalam pernyataan resminya, lembaga itu menyebut pelantang hits "Crooked" itu sebagai "seniman dengan pengaruh global yang meluas dari K-Pop ke ranah budaya dan seni yang lebih luas". G-Dragon dinilai sebagai "mitra ideal" untuk meningkatkan kesadaran internasional tentang pentingnya Komite Warisan Dunia, terutama karena Korea Selatan baru pertama kali menjadi tuan rumah sejak bergabung dengan Konvensi Warisan Dunia pada 1988.
Penunjukan ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, G-Dragon yang kini berusia 37 tahun telah memperluas aktivitasnya ke filantropi. Pada 2024, ia mendonasikan hak ciptanya untuk mendirikan Yayasan JusPeace, sebuah organisasi kepentingan publik yang namanya merupakan gabungan dari kata "justice" (keadilan) dan "peace" (perdamaian). Ia kini menjabat sebagai ketua kehormatan yayasan tersebut. Langkah ini menunjukkan pergeseran dari sekadar ikon pop menjadi agen perubahan sosial, sebuah tren yang juga mulai terlihat di kalangan selebritas Indonesia.
Sebagai duta, G-Dragon akan mendukung kampanye global bertajuk "Heritage in Peace" yang akan diluncurkan bersama oleh Yayasan JusPeace dan UNESCO pada Jumat pekan depan. Kampanye ini bertujuan mengajak individu, perusahaan, dan kota untuk berpartisipasi dalam perlindungan situs warisan dunia. Dana yang terkumpul akan disalurkan ke Dana Warisan Dunia (World Heritage Fund) untuk membantu melindungi situs-situs yang terancam oleh konflik bersenjata, perubahan iklim, dan bencana alam. G-Dragon dijadwalkan muncul dalam video promosi dan acara terkait kampanye tersebut, menyampaikan pesan yang berpusat pada "perdamaian melalui budaya dan partisipasi".
Bagi Indonesia, langkah Korea Selatan ini menawarkan pelajaran berharga. Di tengah upaya pemerintah mempromosikan warisan budaya seperti batik, wayang, dan candi-candi bersejarah, kolaborasi dengan figur publik berdaya jangkau global bisa menjadi strategi efektif. Sejumlah musisi dan aktor Tanah Air sudah mulai dilibatkan dalam kampanye pelestarian budaya, namun belum ada yang ditunjuk sebagai duta resmi untuk forum internasional sekelas UNESCO. Model G-Dragon menunjukkan bahwa popularitas di industri hiburan dapat dialihkan menjadi kekuatan diplomasi budaya yang konkret.
"Warisan dunia adalah aset bersama yang harus dilindungi oleh seluruh umat manusia," ujar seorang perwakilan G-Dragon, seraya menambahkan bahwa kampanye ini bertujuan menginspirasi aksi kolektif melalui pesan perdamaian. Sebelumnya, G-Dragon juga pernah menjadi duta kehormatan untuk KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Gyeongju tahun lalu, di mana ia tampil dalam jamuan makan malam untuk para pemimpin negara. Pengalaman ini memperkuat reputasinya sebagai jembatan antara budaya pop dan diplomasi tingkat tinggi.
Ke depannya, efektivitas kampanye "Heritage in Peace" akan menjadi ujian apakah kolaborasi antara selebritas dan organisasi multilateral benar-benar mampu menghasilkan dampak nyata bagi pelestarian warisan dunia. Apakah model ini akan diadopsi oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk mempromosikan kekayaan budayanya di kancah global? Jawabannya mungkin akan terlihat dari seberapa besar partisipasi publik dan dana yang terkumpul dalam kampanye tersebut.



