Dari Futsal ke Panggung Dunia: Gabriel Martinelli, Pahlawan Super-Sub Brasil di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gabriel Martinelli menjadi penentu kemenangan Brasil atas Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026, memperkuat reputasinya sebagai pemain pengganti yang efektif.
- Perjalanan Martinelli dimulai dari futsal di Corinthians pada usia enam tahun, kemudian menonjol di Ituano sebelum direkrut Arsenal dengan harga murah sekitar โฌ5 juta.
- Kesuksesannya di level klub dan timnas menunjukkan pentingnya pembinaan usia dini dan kesabaran dalam mengembangkan bakat sepak bola.

Gabriel Martinelli kembali membuktikan diri sebagai senjata rahasia Brasil di Piala Dunia 2026. Masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua saat skor masih 1-1 melawan Jepang, pemain Arsenal itu mencetak gol kemenangan yang membawa tim asuhan Carlo Ancelotti melaju ke babak 16 besar. Kini Brasil bersiap menghadapi Norwegia pada hari Minggu.
Bagi Martinelli, peran sebagai super-sub bukanlah hal baru. Sepanjang musim 2025/26, ia memulai 25 dari 53 penampilannya bersama Arsenal, namun tetap menjadi andalan saat dibutuhkan dari bangku cadangan. Pelatih Ancelotti memuji kontribusinya: "Dia bermain dengan intensitas tinggi. Golnya sangat membantu, dan dengan dia di lapangan, Vinicius Jr mendapat lebih banyak ruang dan menjadi ancaman konstan."
Namun, perjalanan Martinelli menuju puncak tidak selalu mulus. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan temperamen kompetitif yang kuat. Daniel Magalhaes, pelatihnya di tim futsal junior Corinthians, mengenang saat Martinelli marah besar ketika ditarik keluar di pertandingan yang sudah dimenangkan 4-1. "Dia benci diganti. Saya harus duduk dan berbicara dengannya selama seminggu," kenang Magalhaes.
Bakat Martinelli sudah terlihat sejak usia dini. Bergabung dengan Corinthians pada usia enam tahun, ia menjadi pencetak gol terbuka di setiap kelompok umur. Kecepatan luar biasa menjadi senjatanya di lapangan futsal. Pada usia 14 tahun, keluarganya pindah ke Itu, dan ia bergabung dengan akademi Ituano.
Thiago Badari, pelatih U-15 di Ituano, mengingat insting mencetak gol Martinelli yang luar biasa. "Di musim U-15, ia mencetak 15 gol dalam 16 pertandingan. Dia bisa mencetak gol dengan kedua kaki, dari tanah, udara, bahkan dengan kepala. Meskipun bertubuh kecil, ia biasanya bermain sebagai penyerang tengah," ujar Badari.
Penampilan impresifnya menarik perhatian klub-klub Eropa. Menariknya, klub Inggris pertama yang memantau Martinelli bukanlah Arsenal, melainkan Manchester United. Ia bahkan sempat mengikuti kamp pelatihan di Inggris. Namun, pada 2019, Arsenal bergerak cepat. Edu Gaspar, yang baru menjabat direktur teknis Arsenal, merekrut Martinelli dari Ituano dengan biaya sekitar โฌ5 juta โ angka yang dianggap sangat murah untuk standar Premier League.
Rencana awal adalah menempatkan Martinelli di tim U-23, tetapi pelatih Unai Emery langsung mempromosikannya ke tim utama setelah melihat aksinya di pramusim. "Setelah sepuluh hari, dia berkata, 'Anak ini tetap bersama kami, di tim utama,'" kenang Edu. Martinelli pun menjadi investasi cerdas Arsenal, dengan tiga perpanjangan kontrak yang membuktikan nilainya.
Kisah Martinelli memberikan pelajaran berharga bagi pengembangan sepak bola Indonesia. Investasi pada pembinaan usia dini, seperti futsal yang membentuk fondasi teknis dan kecepatan, sangat krusial. Selain itu, kesabaran dalam memberikan kesempatan kepada pemain muda, seperti yang dilakukan Arsenal dengan mempromosikannya ke tim utama, menjadi kunci. Martinelli juga menunjukkan bahwa sikap rendah hati dan kesiapan bermain di posisi mana pun adalah aset berharga.
Ke depan, Brasil akan menghadapi Norwegia yang tidak bisa dianggap remeh. Namun, dengan Martinelli yang selalu siap sedia, baik sebagai starter maupun pengganti, peluang Brasil untuk melaju lebih jauh tetap terbuka. Pertanyaannya, mampukah Martinelli terus mempertahankan perannya sebagai pembeda di panggung terbesar sepak bola dunia?



