De Fougerolles, Bek Muda Kanada yang Belajar Cepat di Panggung Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Bek tengah berusia 20 tahun, Luc de Fougerolles, menjadi pilar utama pertahanan Kanada di Piala Dunia setelah tampil di semua pertandingan grup dan babak 32 besar.
- De Fougerolles memanfaatkan turnamen ini sebagai laboratorium belajar, mengakui setiap laga adalah pelajaran berharga untuk perkembangan kariernya.
- Fokus penuh pada Piala Dunia membuatnya mengesampingkan masa depan klub bersama Fulham, dengan keputusan akan diambil setelah turnamen usai.

Luc de Fougerolles, bek tengah muda Kanada, menjadi salah satu pemain yang paling menonjol di Piala Dunia edisi kali ini. Meski baru berusia 20 tahun, ia dipercaya mengisi posisi inti di lini belakang dan akan kembali menjadi andalan saat Kanada menghadapi Maroko pada babak 16 besar di Houston, Sabtu (2/7).
De Fougerolles memulai semua tiga pertandingan fase grup dan turun dari bangku cadangan saat Kanada mengalahkan Afrika Selatan di babak 32 besar. Penampilannya yang tenang dan matang membuatnya tampak seperti pemain veteran, padahal ia baru merasakan pengalaman reguler di klub senior musim lalu saat dipinjamkan ke Dender di Liga Belgia untuk musim 2025/26.
Lahir di London dari ayah Kanada dan ibu kelahiran Iran yang berkewarganegaraan Inggris, De Fougerolles menempuh pendidikan sepak bola di akademi Fulham sebelum menjalani masa peminjaman. Kini, ia menjadi bagian dari tim Kanada yang disebut-sebut sebagai generasi terbaik yang pernah dimiliki negara tersebut.
"Saya sangat menikmati bermain di pertandingan besar, dan saya merasa di turnamen ini Anda harus cepat dewasa," ujar De Fougerolles kepada wartawan di Houston, Kamis (30/6). "Segalanya berlangsung cepat, jadi Anda belajar selama turnamen. Saya sudah mengambil pelajaran berharga di fase grup dan pertandingan knockout sebelumnya. Saya siap terus belajar dan berkembang."
De Fougerolles menekankan pentingnya pemulihan fisik di tengah jadwal padat dan cuaca panas di Houston. "Satu-satunya yang kami lakukan adalah menonton pertandingan dan memulihkan diri. Ini tentang kesiapan untuk laga berikutnya," katanya. Ia juga belajar dari pemain senior yang lebih berpengalaman dalam menghadapi kondisi panas dan proses recovery. "Saya mencoba menyerap ilmu dari mereka untuk membantu diri saya pulih lebih baik."
Meski masih terikat kontrak dengan Fulham, De Fougerolles mengaku belum memikirkan masa depan klubnya selama Piala Dunia berlangsung. "Terlalu banyak hal terjadi, semuanya berlangsung cepat, jadi mudah untuk melupakan sepak bola klub untuk saat ini. Saya yakin setelah Piala Dunia, kita lihat saja nanti," ujarnya.
Bagi Indonesia, perjalanan De Fougerolles menjadi contoh bagaimana pemain muda bisa berkembang pesat di turnamen akbar. Pengalamannya menunjukkan bahwa kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi adalah kunci, terutama bagi pemain yang baru pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia. Hal ini relevan dengan upaya pengembangan pemain muda di Indonesia yang kerap kesulitan mendapatkan menit bermain di level internasional.
Pertandingan melawan Marocco akan menjadi ujian sesungguhnya bagi De Fougerolles dan Kanada. Bisakah ia mempertahankan performa impresifnya dan membawa timnya melaju lebih jauh? Atau justru tekanan babak gugur akan membuatnya belajar dengan cara yang lebih pahit? Semua akan terjawab di lapangan.



