Emas di Atas US$4.000, Saham Antam Mulai Bangkit: Target Harga Rp4.800
Baca dalam 60 detik
- Saham ANTM menguat 5,75% ke Rp2.760 seiring rebound harga emas dunia di atas US$4.000 per ons.
- Penjualan emas Antam mencapai Rp66,47 triliun pada 2025, naik 15%, dan laba kuartal I-2026 melonjak 58%.
- Analis merekomendasikan beli dengan target jangka panjang Rp4.800, didorong prospek emas dan kinerja keuangan solid.

Setelah tertekan hingga ke level terendah Rp2.590 pada akhir Juni lalu, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akhirnya menunjukkan sinyal pemulihan. Pada perdagangan Kamis (2/7/2026), harga saham emiten pelat merah ini ditutup melesat 5,75% ke Rp2.760, seiring harga emas dunia yang kembali bertengger di atas US$4.000 per ons setelah sempat merosot.
Pergerakan saham ANTM memang tak bisa dilepaskan dari fluktuasi harga emas global. Kontribusi segmen emas masih mendominasi pendapatan perseroan, sehingga setiap pergerakan harga logam mulia berdampak langsung pada kinerja keuangan dan valuasi saham. Sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor di atas US$5.000 per ons, namun koreksi tajam membuat harga sempat jatuh di bawah US$4.000. Kini, dengan sentimen pasar yang kembali positif, emas berhasil bangkit dan memberikan angin segar bagi saham ANTM.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai prospek saham ANTM masih cerah. Menurutnya, manajemen Antam menargetkan penjualan emas tahun ini bisa menyamai atau bahkan melampaui rekor tahun 2024. Meskipun partisipasi ritel tidak akan mendongkrak kinerja secara signifikan, dorongan dari segmen emas tetap positif. "Segmen emas merupakan kontribusi pendapatan terbesar ANTM, namun partisipasi retail tidak sepenuhnya akan meningkatkan kinerja secara signifikan meskipun tentunya akan memberikan dorongan," ujar Adrian.
Kinerja keuangan Antam dalam dua tahun terakhir memang impresif. Sepanjang 2025, penjualan emas mencapai Rp66,47 triliun, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini mendorong pendapatan total perseroan naik 22% menjadi Rp84,64 triliun. Tren positif berlanjut di kuartal I-2026, di mana laba bersih Antam tercatat Rp3,66 triliun, tumbuh 58% secara tahunan. Capaian ini menunjukkan bahwa Antam berhasil memanfaatkan momentum harga emas yang tinggi.
Namun, perlu dicatat bahwa kinerja Antam sangat bergantung pada harga komoditas, tidak hanya emas tetapi juga nikel dan bauksit. Selain itu, perubahan regulasi di sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba) juga menjadi faktor risiko yang perlu dicermati. Bagi investor di Indonesia, saham ANTM kerap menjadi pilihan untuk eksposur terhadap emas, namun volatilitas harga komoditas membuatnya tidak cocok untuk profil risiko rendah.
Adrian dari Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk ANTM dengan target harga jangka panjang Rp4.800. Angka ini memberikan potensi kenaikan lebih dari 70% dari level saat ini. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi harga emas global yang bisa kembali menekan saham ANTM. Pertanyaannya, akankah harga emas mampu bertahan di atas US$4.000 dan melanjutkan penguatan, atau justru kembali tertekan oleh kebijakan moneter ketat bank sentral?



