Refleksi Kemerdekaan di Kalteng: Gubernur Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Aksi Nyata
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, memimpin upacara HUT ke-81 RI di Palangka Raya dengan pesan agar kemerdekaan diisi melalui pembangunan daerah.
- Pemerintah provinsi menggelar pasar murah dan atraksi budaya untuk memperkuat semangat kebersamaan di tengah peringatan kemerdekaan.
- Ajakan untuk tidak melupakan sejarah menjadi landasan bagi sinergi pembangunan yang merata di Kalimantan Tengah.

Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam aksi nyata pembangunan, bukan sekadar perayaan seremonial. Seruan ini disampaikan di tengah upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Senin (17/8).
Dalam amanatnya, Agustiar menggarisbawahi bahwa penghargaan tertinggi terhadap jasa pahlawan adalah dengan melanjutkan perjuangan mereka. "Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," ujarnya, mengutip pesan Proklamator Soekarno yang dikenal dengan istilah Jasmerah. Baginya, kemerdekaan yang telah diraih harus diisi dengan kontribusi positif, terutama melalui pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Pemprov Kalteng, di hari yang sama, membuktikan komitmennya dengan menggelar pasar murah yang menyasar kelompok masyarakat yang kerap terpinggirkan, seperti pengemudi ojek daring, petugas kebersihan, dan petugas pemadam kebakaran. Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret untuk menghadirkan manfaat langsung dari kemerdekaan, sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Kemeriahan peringatan tahun ini juga diwarnai dengan atraksi terjun payung dan pertunjukan Tari Manasai, sebuah tarian khas yang melambangkan kebersamaan dan persaudaraan. Gubernur bersama jajaran turut berpartisipasi dalam tarian tersebut, menunjukkan simbolisasi sinergi antara pemerintah dan rakyat. Hal ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak akan berjalan optimal tanpa kolaborasi erat antara pemimpin dan warganya.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan, pesan Agustiar tentang pentingnya sejarah memiliki relevansi yang mendalam bagi generasi muda Indonesia. Di era disrupsi informasi, mudah bagi generasi penerus untuk melupakan narasi perjuangan bangsa. Padahal, pemahaman sejarah adalah fondasi untuk membangun identitas dan arah pembangunan yang berpihak pada kepentingan nasional.
Lebih jauh, ajakan untuk bersinergi membangun Kalimantan Tengah mencerminkan kebutuhan mendesak akan pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa. Provinsi ini, yang kaya akan sumber daya alam, masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur dan kesejahteraan. Komitmen pemerintah daerah untuk melibatkan semua elemen masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi kesenjangan tersebut.
Peringatan kemerdekaan tahun ini, dengan berbagai kegiatan yang menyertainya, bukan sekadar seremonial belaka. Ia menjadi momentum refleksi kolektif: sejauh mana kita telah mengisi kemerdekaan? Apakah pembangunan yang kita lakukan sudah berpihak pada mereka yang paling membutuhkan? Pertanyaan-pertanyaan ini layak direnungkan, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh setiap warga negara.
Ke depan, tantangan pembangunan Kalteng dan Indonesia pada umumnya akan semakin kompleks. Diperlukan tidak hanya semangat gotong royong, tetapi juga inovasi dan kebijakan yang adaptif. Apakah semangat Jasmerah yang digaungkan akan mampu menjawab tantangan zaman? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita, sebagai bangsa, mampu mengelola sejarah dan mengubahnya menjadi energi untuk melompat lebih maju.



