Rusia Hantam Kyiv dengan 570 Rudal dan Drone, 27 Tewas dalam Serangan Terbesar Tahun Ini
Baca dalam 60 detik
- Rusia meluncurkan 74 rudal dan 496 drone ke Kyiv pada Kamis dini hari, menewaskan 27 orang dan melukai 91 lainnya dalam serangan paling mematikan di ibu kota Ukraina tahun ini.
- Presiden Zelenskyy menyalahkan keterlambatan pengiriman sistem pertahanan udara dari sekutu, seraya mendesak NATO untuk memperkuat pertahanan udara Eropa pada KTT mendatang.
- Serangan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut, dengan Ukraina meningkatkan serangan balasan ke infrastruktur energi Rusia, sementara Moskow berjanji terus meningkatkan tekanan.

Rusia melancarkan serangan gabungan rudal dan drone terbesar ke Kyiv sejak awal tahun, menewaskan sedikitnya 27 orang dan melukai 91 lainnya pada Kamis (2/7) dini hari. Rentetan ledakan mengguncang pusat ibu kota Ukraina itu selama berjam-jam, memaksa ribuan warga berhamburan ke tempat perlindungan dan stasiun metro bawah tanah.
Kepala Administrasi Militer Kyiv, Tymur Tkachenko, mengonfirmasi bahwa korban tewas bertambah setelah satu pasien meninggal di rumah sakit. Tim penyelamat masih bekerja di sebuah lokasi di pinggiran timur sungai Dnipro, tempat lima jenazah ditemukan dan delapan warga dilaporkan hilang. “Sayangnya, masih mungkin ditemukan korban lain,” tulisnya di Telegram.
Skala dan sebaran kerusakan kali ini nyaris tanpa preseden dalam perang yang sudah memasuki tahun kelima. Sebanyak 130 bangunan dilaporkan rusak, termasuk gedung apartemen sembilan lantai yang hancur separuh di tepi kiri kota. Sebelumnya, pada Mei lalu, 24 orang tewas dalam serangan serupa di Kyiv.
Presiden Volodymyr Zelenskyy, yang memotong kunjungannya ke Irlandia dan terbang pulang, langsung meninjau lokasi terdampak. Dalam pernyataan yang sarat kekecewaan, ia menuding keterlambatan pengiriman sistem pertahanan udara dari negara-negara mitra sebagai penyebab tingginya jumlah korban. “Jika mitra kami menepati janji tepat waktu, kami bisa menyelamatkan lebih banyak rumah dan nyawa hari ini,” ujarnya. Ia menegaskan, Ukraina tidak meminta lebih dari apa yang telah disepakati.
Dalam pidato video malamnya, Zelenskyy kembali mendesak pengembangan sistem pertahanan udara Eropa yang mandiri. Ia menyebut isu ini akan menjadi salah satu hasil utama KTT NATO pekan depan di Turki. “Eropa harus memiliki kemampuan sendiri untuk mempertahankan diri dari semua jenis ancaman, termasuk rudal balistik Rusia,” katanya.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa dari 74 rudal yang diluncurkan, sebagian besar adalah rudal balistik yang sulit dicegat. Juru bicara Yuri Ihnat mengakui tingkat intersepsi untuk rudal jenis itu rendah, diperparah dengan kelangkaan misil Patriot dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim serangan itu menargetkan fasilitas militer, energi, dan bandara di Kyiv sebagai balasan atas serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia.
Serangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan aset kemanusiaan dan ilmiah. Palang Merah Ukraina melaporkan gudang bantuan mereka di Kyiv hancur, menyebabkan 320.000 barang bantuan lenyap. Institut Biokimia Nasional Ukraina, yang memiliki laboratorium mutakhir, juga ikut terbakar. Ilmuwan Yurii Danylovych menyebutnya sebagai “bencana bagi ilmu kedokteran dan biologi Ukraina.”
Diplomat Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, menyebut Rusia “melepaskan neraka di Kyiv” dan mengatakan akomodasi staf diplomatik ikut terkena dampak. Beruntung, para diplomat selamat meski barang-barang mereka rusak. Polandia, anggota NATO, sempat mengerahkan jet tempur sebagai langkah antisipasi, sementara Finlandia memberlakukan zona larangan terbang sementara di Teluk Finlandia timur.
Bagi Indonesia, eskalasi ini mengingatkan pada pentingnya kemandirian pertahanan dan diplomasi kemanusiaan. Serangan terhadap infrastruktur sipil dan ilmiah di Kyiv menunjukkan bahwa konflik bersenjata tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan modal intelektual dan sosial yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dibangun. Indonesia, yang kerap menyerukan penyelesaian damai, perlu mencermati bagaimana keterlambatan bantuan pertahanan justru memperparah penderitaan warga sipil.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa hanya dukungan militer berkelanjutan dan tekanan lebih besar pada Moskow yang dapat menghentikan serangan semacam ini. Ia berencana menjatuhkan sanksi baru terhadap entitas yang mendukung kompleks industri militer Rusia. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengutuk serangan itu sebagai bagian dari “pola mematikan” penargetan kawasan padat penduduk di Ukraina.
Zelenskyy kembali menawarkan perundingan damai dengan Putin, namun tawaran itu kembali ditolak Kremlin. Ia mengungkapkan bahwa negosiator Ukraina dan AS telah mengadakan pembicaraan dalam dua hari terakhir, dan berharap dapat bertemu Presiden Donald Trump di sela-sela KTT NATO. Pertanyaannya, akankah aliansi Barat mampu bergerak cepat sebelum Kyiv kembali berduka?



