Jenazah Pilot AMA Air Berhasil Dievakuasi dari Lokasi Pembakaran di Yahukimo
Baca dalam 60 detik
- Tim gabungan TNI Habema mengevakuasi jenazah pilot Nicholas F. Goselin dari Bandara Ipdeheik, Yahukimo, pada Jumat (3/7).
- Operasi SAR taktis melibatkan 10 personel dan dua helikopter Caracal di medan pegunungan ekstrem ketinggian 2.292 mdpl.
- Pesawat PK-RCY dibakar oleh kelompok bersenjata pada Kamis (2/7); proses evakuasi terhambat akses darat dan cuaca.

Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz 2026 di bawah Komando Operasi Khusus (Koops) TNI Habema berhasil mengevakuasi jenazah pilot pesawat PT AMA Air, Nicholas F. Goselin, dari Bandara Ipdeheik, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat (3/7). Evakuasi dilakukan sehari setelah pesawat jenis Pilatus PC-6 dengan nomor registrasi PK-RCY dibakar oleh kelompok bersenjata yang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Operasi yang diberi nama Operasi Khusus Perebutan Cepat ini tidak hanya bertujuan mengamankan lokasi kecelakaan, tetapi juga memastikan keselamatan warga sekitar. Sebanyak sepuluh personel Koops TNI Habema dikerahkan dengan dukungan dua helikopter Caracal milik TNI Angkatan Udara. Medan pegunungan yang curam dan berada di ketinggian 2.292 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi. Wakil Panglima Koops TNI Habema, Brigjen Riyanto, menyatakan bahwa operasi dilakukan secara cepat, terukur, dan terkoordinasi mengingat tingkat kesulitan geografis yang tinggi.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum. Prioritas kami adalah menyelamatkan korban, mengamankan lokasi, melindungi masyarakat, serta mendukung proses penegakan hukum terhadap para pelaku," ujar Riyanto dalam keterangan tertulis yang diterima media, Jumat. Pernyataan ini menegaskan komitmen TNI untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah Papua yang kerap diwarnai gangguan kelompok separatis.
Sebelumnya, pada Kamis (2/7), pesawat AMA Air yang tengah melakukan penerbangan perintis di Bandara Ipdeheik diserang dan dibakar oleh orang tak dikenal (OTK) yang diduga bagian dari jaringan OPM. Pilot Nicholas F. Goselin dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Kondisi geografis yang sulit—tanpa akses jalan darat dan hanya bisa dijangkau melalui penerbangan perintis—menjadi kendala utama bagi tim investigasi dan evakuasi. Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo, menjelaskan bahwa ketinggian bandara dan cuaca yang tidak menentu memperlambat proses penanganan di lapangan.
"Proses penanganan di lapangan turut menghadapi kendala kondisi geografis. Belum adanya akses jalur darat sehingga hanya dapat dijangkau menggunakan penerbangan perintis. Bandara yang berada pada ketinggian sekitar 2.292 meter di atas permukaan laut menjadi hambatan petugas untuk tiba di lokasi dengan mempertimbangkan kondisi cuaca," kata Yusuf dalam keterangannya, Kamis (2/7). Pernyataan ini menggarisbawahi betapa rentannya wilayah pegunungan Papua terhadap gangguan keamanan sekaligus sulitnya mobilitas aparat.
Insiden ini kembali menyoroti ancaman kelompok separatis bersenjata di Papua yang kerap menargetkan infrastruktur sipil, termasuk penerbangan perintis yang menjadi urat nadi logistik dan mobilitas warga. Koops TNI Habema sendiri merupakan satuan khusus yang dibentuk untuk mempercepat stabilisasi keamanan di Papua, dengan fokus pada operasi kontra-insurjensi dan perlindungan masyarakat. Keberhasilan evakuasi jenazah pilot ini menjadi ujian bagi efektivitas satuan tersebut dalam merespons situasi darurat di medan berat.
Ke depan, aparat keamanan dihadapkan pada tantangan untuk mengungkap jaringan pelaku pembakaran pesawat serta mencegah terulangnya aksi serupa. Pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana koordinasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah mampu menekan ruang gerak kelompok bersenjata di wilayah yang sulit dijangkau ini. Sementara itu, keluarga korban dan publik menanti proses hukum yang transparan terhadap para pelaku.



