Iran Ancam Tanker Minyak di Selat Hormuz: Wajib Ikuti Rute Resmi atau Hadapi Konsekuensi
Baca dalam 60 detik
- Komando militer Iran memperingatkan kapal tanker minyak untuk hanya menggunakan rute yang disetujui di Selat Hormuz, dengan ancaman respons keras jika melanggar.
- Langkah ini meningkatkan ketegangan di jalur energi global, di tengah negosiasi perang Iran dan persiapan pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
- Lalu lintas kapal di selat mulai pulih meski ada serangan, namun operator kapal masih menghadapi ketidakstabilan rute setiap jam.

Komando militer gabungan Iran, Khatam al-Anbiya, pada Kamis mengeluarkan peringatan keras bahwa semua kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz harus mematuhi rute yang telah ditentukan atau menghadapi "respons tegas". Langkah ini kembali memanaskan tensi di jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi dunia.
Pernyataan yang disiarkan televisi negara Iran itu muncul sehari setelah perwakilan Amerika Serikat dan Iran bertemu dengan mediator di Qatar. Selat Hormuz, yang merupakan muara sempit Teluk Persia, telah menjadi salah satu isu sentral dalam negosiasi untuk mengakhiri perang Iran secara permanen. Meski penyebab langsung ancaman ini belum jelas, pernyataan Komando Pusat AS yang menekankan "komitmen bersama terhadap kebebasan arus perdagangan" di selat tersebut diduga menjadi pemicu kemarahan Teheran.
Iran tengah bersiap menyelenggarakan pemakaman Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang tewas pada awal perang Februari lalu. Dalam pernyataannya, militer Iran menegaskan bahwa setiap pelanggaran, penyimpangan dari rute yang ditentukan, atau pengabaian protokol navigasi akan dihadapi dengan respons cepat yang membahayakan keamanan kapal pelanggar. Intervensi pasukan AS di selat juga akan mendapat reaksi yang sama.
Ketegangan di Selat Hormuz berimplikasi langsung pada Indonesia, yang merupakan importir minyak mentah dan produk minyak. Gangguan pasokan melalui jalur ini dapat memicu lonjakan harga energi domestik dan mengganggu stabilitas pasokan BBM. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari manajemen risiko ketahanan energi nasional.
Meskipun serangan Iran pada 25 dan 27 Juni lalu sempat meredakan lalu lintas, data dari Lloyd's List Intelligence menunjukkan pemulihan. Richard Meade, pemimpin redaksi Lloyd's, mengatakan dalam sebuah webinar bahwa serangan tersebut "seolah dilupakan". Namun, ia menekankan bahwa situasi masih jauh dari stabil. "Rute dipilih setiap jam, tergantung pada persetujuan politik yang berubah-ubah dan penilaian keamanan waktu nyata. Ini bukan normal baru," ujarnya.
Diplomasi masih berlanjut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyebut pembicaraan Rabu lalu menunjukkan "kemajuan positif". Pakistan berharap putaran perundingan berikutnya dapat dijadwalkan segera setelah pemakaman Khamenei. Namun, dengan ancaman militer Iran yang masih menggantung, stabilitas Selat Hormuz masih jauh dari kata pasti. Akankah tekanan internasional mampu meredakan ambisi Teheran mengontrol jalur energi dunia?



