Jamie Oliver Raih Lisensi Pilot di Usia 51: Kisah Perjuangan Melawan Disleksia
Baca dalam 60 detik
- Jamie Oliver berhasil meraih Private Pilot Licence (PPL) setelah menjalani pelatihan intensif selama setahun.
- Perjuangannya makin berat karena harus menghadapi sembilan ujian teori, namun ia mengatasi disleksia dengan bantuan aplikasi text-to-speech.
- Lisensi ini membuka peluang baru bagi sang koki untuk mengintegrasikan hobi terbang dengan dunia kuliner.

Jamie Oliver, koki selebriti asal Inggris yang dikenal lewat program The Naked Chef, resmi menyandang status pilot setelah setahun menjalani pelatihan paling berat dalam hidupnya. Pria berusia 51 tahun itu mengumumkan kelulusannya melalui akun Instagram pada Kamis (2/7/2026) dengan rasa bangga dan haru.
Oliver mengantongi Private Pilot Licence (PPL) yang diterbitkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil Inggris. Lisensi tersebut memungkinkannya menerbangkan pesawat mesin tunggal untuk keperluan pribadi dan rekreasi. Untuk meraihnya, ia harus menyelesaikan 45 jam latihan terbang, lulus ujian praktik, serta sembilan ujian teori pengetahuan penerbangan.
Yang membuat pencapaian ini luar biasa, Oliver mengidap disleksia—gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis. Ujian teori menjadi tantangan besar baginya. Namun, ia menemukan cara cerdas: menggunakan aplikasi Natural Reader untuk mengubah buku teks digital menjadi audio. "Natural Reader pasti sangat membantu saya saat masih muda di sekolah," tulisnya dalam unggahan.
Kecintaan Oliver pada dunia penerbangan bermula dari hadiah ulang tahun yang diberikan istrinya, Jools, berupa penerbangan perkenalan. Sejak saat itu, ia jatuh cinta dan memutuskan menekuni lisensi pilot. Dalam perjalanannya, ia mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk instruktur Mick Pitcher yang disebutnya sebagai "guru terbaik".
Meski kini telah menjadi pilot, Oliver tak berencana meninggalkan dunia kuliner. Ia justru melihat hobi barunya sebagai sumber inspirasi. "Sekarang pembelajaran sesungguhnya dimulai. Mari kita lihat bagaimana ini menginspirasi masakan saya," ujarnya. Bagi penggemar kuliner dan penerbangan di Indonesia, kisah Oliver membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk meraih mimpi, bahkan di usia kepala lima.
Keberhasilan Oliver juga menyoroti pentingnya teknologi asistif bagi penyandang disleksia. Di Indonesia, kesadaran akan disleksia masih rendah, namun kisah Oliver bisa menjadi dorongan bagi banyak orang untuk tidak menyerah pada hambatan belajar. Pertanyaan selanjutnya: akankah Oliver mengintegrasikan tema penerbangan dalam menu restorannya?



