Saham Perbankan dan Asuransi Jeblok, Kapitalisasi Pasar Nigeria Lenyap Rp28 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Indeks NGX ambles 0,61% dalam sehari, dipicu aksi jual massal saham perbankan dan asuransi yang masing-masing turun 2,15% dan 2,46%.
- Kapitalisasi pasar bursa Nigeria terkikis N878 miliar (sekitar Rp28 triliun) dalam satu sesi, memperpanjang tren bearish yang sudah berlangsung.
- Tekanan jual menyebar ke seluruh sektor utama, menandakan sentimen investor yang masih rapuh di tengah ketidakpastian ekonomi domestik.

Bursa saham Nigeria kembali mengalami pendarahan hebat pada Kamis (13/3) setelah saham-saham sektor perbankan dan asuransi ambruk, menggerus kapitalisasi pasar hingga N878 miliar atau setara Rp28 triliun. Indeks harga saham gabungan NGX All-Share Index (ASI) terpangkas 61 basis poin ke level 224.321,97, memperburuk kinerja year-to-date yang kini hanya tersisa 44,15%.
Tekanan jual terbesar datang dari sektor asuransi yang anjlok 2,46%, disusul perbankan yang merosot 2,15%. Saham-saham unggulan seperti Zenith Bank, GTCO, dan WAPCO tercatat mengalami penurunan signifikan, masing-masing minus 2,95%, 1,23%, dan 6,45%. Oando, emiten migas, juga ikut tertekan dengan koreksi 3,63%.
Meski indeks melemah, volume perdagangan justru melonjak 75,24% dan nilai transaksi naik 103,59% menjadi N28,42 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa aksi jual terjadi secara masif, bukan sekadar penyesuaian posisi. Sebanyak 855,4 juta saham berpindah tangan dalam 51.609 transaksi, dengan Sterling Bank mendominasi 53,86% volume perdagangan.
Analis dari Atlass Portfolio Limited menilai aksi jual kali ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Nigeria yang masih dibayangi tekanan inflasi dan kebijakan moneter yang ketat. โSentimen pasar sedang rapuh. Investor cenderung merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian suku bunga dan nilai tukar,โ ujar seorang analis yang enggan disebut namanya.
Di sisi lain, sejumlah saham lapis kedua justru mencatatkan penguatan. Austin Laz dan LearnAfrica memimpin daftar saham dengan kenaikan tertinggi, masing-masing naik 10%. DAAR Communications, UPDC, dan Caverton juga ikut menghijau dengan kenaikan di atas 8%. Namun, kenaikan tersebut tidak cukup untuk mengimbangi tekanan jual di sektor utama.
Bagi investor Indonesia, kondisi bursa Nigeria ini bisa menjadi pelajaran berharga. Pasar modal di negara berkembang kerap mengalami volatilitas tinggi akibat sentimen global dan domestik. Otoritas bursa Nigeria perlu memperkuat kebijakan stabilisasi pasar agar kepercayaan investor tidak terus tergerus. Pertanyaan besarnya, akankah tren bearish ini berlanjut atau akan ada katalis positif yang membalikkan arah?



