Piala Dunia 2026: Talenta Liga Skotlandia Makin Dilirik, Harga Pemain Meroket
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 20 pemain Liga Skotlandia tampil di Piala Dunia 2026, membuktikan kualitas kompetisi tersebut.
- Klub-klub Skotlandia mulai berani mematok harga tinggi, dengan rekor transfer seperti ยฃ7 juta untuk Kieron Bowie.
- Meningkatnya minat dari klub Eropa menunjukkan pergeseran persepsi terhadap nilai talenta Premiership.

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat menjadi panggung pembuktian bagi para pemain Liga Utama Skotlandia (Scottish Premiership). Lebih dari 20 pesepakbola yang merumput di kompetisi tersebut masuk dalam skuad tim nasional masing-masing, menandai perubahan signifikan dalam cara pasar global memandang talenta Skotlandia.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Setelah musim kompetisi yang ketat dan menarik perhatian dunia, para pemain seperti Daizen Maeda (Celtic), Nicolas Raskin (Rangers), dan Elijah Just (Motherwell) sukses mencuri perhatian di panggung terbesar sepak bola. Maeda, misalnya, mencetak gol spektakuler untuk Jepang saat mengalahkan Swedia di fase grup. Sementara Raskin menjadi pahlawan Belgia dengan assist krusial saat comeback dramatis melawan Senegal di babak 32 besar.
Namun, yang paling mengejutkan adalah penampilan Elijah Just. Gelandang serang Motherwell itu mencetak tiga gol dalam tiga pertandingan untuk Selandia Baru, meski timnya tersisih di babak grup. Performa apiknya langsung memicu spekulasi transfer. "Saya harap agen saya sibuk," ujar Just usai kekalahan timnya, mengisyaratkan minat dari sejumlah klub.
Klub-klub Skotlandia kini tak lagi mudah melepas bintang mereka dengan harga murah. Tren ini terlihat dari keberanian mereka menolak tawaran awal dan menuntut nilai yang lebih tinggi. Aberdeen, misalnya, mendapatkan dana serupa saat melepas Bojan Miovski ke Girona dua tahun lalu. Bahkan, pelatih seperti Jens Berthel Askou yang sukses di Motherwell langsung direkrut Toulouse (Ligue 1), menunjukkan bahwa kualitas kepelatihan dari Skotlandia juga mulai diakui.
Kesuksesan pemain Skotlandia di luar negeri, seperti Aaron Hickey dan Lewis Ferguson di Italia, serta Virgil van Dijk dan Andy Robertson di Premier League Inggris, menjadi bukti bahwa investasi di liga ini memberikan nilai lebih. Brexit yang mempersulit perekrutan pemain muda dari Inggris justru mendorong klub-klup Eropa untuk lebih jeli melihat potensi dari Skotlandia.
Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi pelajaran berharga. Liga 1 Indonesia mungkin bisa meniru strategi pengembangan pemain muda dan negosiasi transfer yang lebih agresif. Jika klub-klub Skotlandia mampu menembus pasar Eropa dengan harga tinggi, bukan tidak mungkin talenta Asia Tenggara juga bisa bersaing di level global dengan pendekatan serupa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah klub-klub besar Eropa terus berburu pemain dari Skotlandia, atau ini hanya momentum sesaat? Dengan semakin banyaknya pemain yang tampil impresif di Piala Dunia, tampaknya tren ini akan berlanjut. Bagi para pengamat, Liga Skotlandia kini bukan lagi sekadar liga pinggiran, melainkan ladang talenta yang patut diperhitungkan.



