Portugal Bawa Kenangan Jota ke Piala Dunia: 'Kami Ingin Menang untuknya'
Baca dalam 60 detik
- Setahun setelah Diogo Jota dan sang adik tewas dalam kecelakaan lalu lintas di Spanyol, skuad Portugal menjadikan momen tersebut sebagai bahan bakar emosional di Piala Dunia 2026.
- Ruben Neves, yang kini mengenakan nomor 21 milik Jota, mengaku masih rutin mengirim pesan ke grup WhatsApp yang berisi almarhum dan istrinya sebagai bentuk pengobatan duka.
- Laga penentuan melawan Kroasia di Toronto akan menjadi ajang pembuktian bahwa semangat Jota masih hidup di dada para pemain Portugal.

Setahun setelah tragedi yang merenggut nyawa Diogo Jota dan adiknya, Andre Silva, skuad Portugal memasuki babak gugur Piala Dunia 2026 dengan beban emosional yang tak biasa. Bukan hanya trofi yang mereka kejar, melainkan juga janji untuk mewujudkan mimpi rekan setim yang telah tiada. Laga melawan Kroasia di Toronto, Kamis malam waktu setempat, bukan sekadar pertandingan biasa—ia telah dinobatkan sebagai 'laga Diogo Jota' oleh pelatih Roberto Martinez.
Jota, yang genap berusia 28 tahun saat kecelakaan terjadi, meninggalkan jejak mendalam di hati para pemain Portugal. Ruben Neves, sahabat karibnya sejak di Porto dan Wolves, bahkan masih mempertahankan grup WhatsApp bersama Jota dan istrinya, Rute Cardoso. “Setiap ada momen spesial, saya tetap mengirim pesan ke arsip percakapan itu,” ujar Neves dalam wawancara dengan stasiun televisi Portugal. Gelandang Al Hilal itu juga mengenakan kostum nomor 21 milik Jota di turnamen ini dan memiliki tato di betis kirinya yang menggambarkan dirinya memeluk sang sahabat.
Kepergian Jota terjadi hanya 11 hari setelah ia menikahi Rute. Ia tengah dalam perjalanan darat dan feri menuju Liverpool untuk bergabung dengan pramusim, karena dokter melarangnya terbang setelah menjalani operasi ringan. Mobil Lamborghini yang dikendarainya keluar jalur akibat ban pecah saat mendahului kendaraan lain di Spanyol. Insiden itu juga merenggut nyawa Andre Silva, sang adik.
Martinez, yang secara khusus menunjuk Jota sebagai pemain ke-27 dalam skuad, tak ragu menyebut almarhum sebagai “matahari dan cahaya” tim. “Kami ingin memenangi Piala Dunia untuknya,” tegas pelatih asal Belgia itu. Di setiap laga sebelumnya, foto hitam-putih Jota merayakan gol ditayangkan di layar raksasa saat lagu kebangsaan berkumandang. Para pemain, termasuk kapten Cristiano Ronaldo, mengenakan gelang khusus berwarna hijau-merah pemberian Perdana Menteri Luis Montenegro, yang mencantumkan nama seluruh anggota skuad plus nama Jota.
Bagi publik Portugal, Jota adalah simbol perjuangan kelas bawah. Ia adalah satu-satunya pemain elite yang tak pernah menjejakkan kaki di akademi tiga besar—Benfica, Sporting, atau Porto. Perjalanannya dari klub kota kecil Gondomar, Pacos de Ferreira, Porto, Wolves, hingga Liverpool menjadi inspirasi. “Dia adalah pahlawan Portugis,” ujar Miguel de Silva, pemilik bar olahraga di Toronto yang dipadati suporter Portugal. Kehadiran orang tua Jota di laga pembuka melawan DR Congo, yang terlihat menitikkan air mata, makin menguatkan ikatan emosional tim.
Namun, duka tak boleh melunturkan fokus. Portugal tampil kurang meyakinkan di fase grup dengan hanya sekali menang. Jika berhasil menaklukkan Kroasia, mereka akan berhadapan dengan Spanyol atau Austria di babak 16 besar. “Setiap hari sulit. Saat latihan, selalu ada momen di mana Diogo kembali dalam ingatan kami,” kata Martinez. “Tapi ulang tahun kepergiannya justru membuat laga ini milik Diogo.” Pertanyaannya, akankah semangat Jota cukup untuk membawa Portugal melangkah lebih jauh, atau justru beban emosional ini akan menjadi bumerang?



