Rusia Hantam Kyiv dengan Rudal dan Drone, Lima Terluka
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal dan drone Rusia menghantam Kyiv pada Kamis pagi, melukai lima petugas kesehatan dan memicu kebakaran.
- Presiden Zelensky memotong kunjungannya ke Dublin setelah intelijen mendeteksi persiapan serangan besar-besaran Moskow.
- Konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini menimbulkan lebih dari dua juta korban militer, dengan Rusia menanggung kerugian terbesar.

Rudal dan drone Rusia mengguncang Kyiv pada Kamis (2/7) dini hari, melukai sedikitnya lima orang dan memicu kebakaran di sejumlah titik. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa Moskow tengah mempersiapkan "serangan besar-besaran".
Ledakan bertubi-tubi terdengar di pusat dan timur Kyiv, mendorong warga—termasuk anak-anak dan hewan peliharaan—berlarian menuju stasiun metro yang difungsikan sebagai tempat perlindungan. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko melalui Telegram mengonfirmasi bahwa ibu kota sedang menjadi sasaran rudal balistik dan kendaraan udara nirawak (UAV). "Musuh terus meluncurkan rudal ke ibu kota," tulisnya.
Lima tenaga kesehatan di distrik Shevchenkivskyi menjadi korban, satu di antaranya dalam kondisi kritis. Serangan juga menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal dan merusak fasilitas medis, menurut kepala administrasi militer Kyiv, Tymur Tkachenko. Jurnalis AFP di lokasi meledakan pertama melihat kepulan asap dan kobaran api, disusul ledakan kedua sekitar 50 menit kemudian di dekat lokasi awal.
Zelensky sebelumnya memendekkan lawatannya ke Irlandia pada Rabu setelah menerima laporan intelijen tentang rencana serangan Rusia. "Saya mendesak warga untuk sangat berhati-hati, melindungi diri, anak-anak, dan keluarga, serta menggunakan tempat perlindungan dan mematuhi peringatan serangan udara," ujarnya dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah mempersiapkan serangan ini sejak lama.
Di sisi lain, Ukraina meningkatkan serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia dalam beberapa pekan terakhir, menargetkan infrastruktur energi dan instalasi militer. Pejabat Rusia melaporkan serangan berulang di daerah perbatasan, sementara Moskow mengklaim pertahanan udaranya telah mencegat ratusan drone Ukraina.
Konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini menjadi yang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Sebuah studi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis Rabu menyebutkan bahwa jumlah korban militer telah melampaui dua juta jiwa, dengan Rusia menanggung kerugian terbesar. Upaya mediasi Amerika Serikat untuk mengakhiri perang sejauh ini belum membuahkan hasil.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini berpotensi mempengaruhi harga energi global dan rantai pasok pangan, mengingat Ukraina dan Rusia merupakan pemasok utama gandum dan minyak bumi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati dampak tidak langsung terhadap inflasi dan ketahanan energi nasional. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana serangan besar-besaran Rusia ini akan mengubah peta diplomasi internasional, terutama menjelang musim dingin yang biasanya menjadi periode kritis bagi Ukraina.



