Bundesliga Adopsi Aturan Piala Dunia 2026: Waktu Baku Tendangan Gawang hingga VAR Kartu Kuning Kedua
Baca dalam 60 detik
- Bundesliga dan Bundesliga 2 akan menerapkan aturan baru mulai musim 2026/27, termasuk batas lima detik untuk tendangan gawang dan lemparan ke dalam, serta sepuluh detik bagi pemain yang diganti untuk meninggalkan lapangan.
- VAR diperluas untuk mengoreksi kartu kuning kedua yang keliru dan kesalahan identitas pemain, sementara aturan keuntungan (advantage) diubah sehingga pemain tidak lagi mendapat kartu kuning jika gol tercipta setelah pelanggaran.
- Aturan terkait tendangan sudut, pelanggaran pemain penyerang saat tendangan bebas, serta sanksi bagi pemain yang menutup mulut saat berdebat masih menunggu keputusan final setelah Piala Dunia 2026.

Liga Jerman, Bundesliga, akan mengadopsi sejumlah perubahan aturan yang sebelumnya diuji coba pada Piala Dunia 2026 mulai musim 2026/27. Langkah ini diambil untuk mempercepat tempo pertandingan dan mengurangi praktik pembuangan waktu yang kerap mengganggu jalannya laga.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah penerapan hitungan mundur lima detik untuk tendangan gawang dan lemparan ke dalam. Jika kiper atau pemain melebihi batas waktu tersebut, tendangan gawang otomatis berubah menjadi tendangan sudut bagi lawan, sementara lemparan ke dalam beralih ke tim lawan. Aturan ini diyakini akan memangkas waktu mati yang sering dimanfaatkan tim untuk mengulur-ulur waktu.
Tidak hanya itu, pemain yang akan diganti kini hanya diberi waktu sepuluh detik untuk meninggalkan lapangan. Jika melebihi batas, pemain pengganti harus menunggu hingga jeda permainan berikutnya setelah satu menit berlalu sebelum bisa masuk. Aturan ini menyasar kebiasaan pemain yang berjalan lambat saat diganti, yang kerap memicu frustrasi penonton dan lawan.
Dalam hal cedera, pemain yang mendapat perawatan di lapangan harus keluar dan tetap berada di luar selama satu menit setelah permainan dilanjutkan, kecuali untuk kiper. Kebijakan ini diharapkan mengurangi simulasi cedera yang sering digunakan untuk memecah konsentrasi lawan.
Perubahan signifikan juga terjadi pada protokol Video Assistant Referee (VAR). Mulai musim 2026/27, VAR dapat campur tangan jika kartu kuning kedua yang berujung kartu merah ternyata merupakan keputusan keliru. Selain itu, VAR juga bisa membetulkan kasus kesalahan identitas, di mana pemain yang salah mendapat kartu kuning. Perluasan wewenang VAR ini diharapkan mengurangi kontroversi yang kerap muncul akibat kesalahan wasit.
Aturan keuntungan (advantage) juga mengalami revisi. Jika wasit memberikan keuntungan dan gol tercipta, pemain yang sebelumnya melakukan pelanggaran tidak lagi mendapat kartu kuning, berbeda dengan praktik sebelumnya. Wasit juga kini diperbolehkan memberikan keuntungan meskipun terjadi kesalahan dalam prosedur restart, seperti lokasi lemparan ke dalam yang tidak tepat atau bola yang tidak diam saat tendangan bebas.
Beberapa aturan lain masih dalam tahap diskusi dan akan diputuskan setelah Piala Dunia 2026. Di antaranya adalah kemungkinan VAR mengoreksi tendangan sudut yang keliru tanpa menghentikan permainan, serta peninjauan pelanggaran pemain penyerang yang terjadi sesaat sebelum bola dimainkan pada situasi tendangan bebas atau tendangan sudut yang berujung gol. Juga masih belum jelas apakah pemain yang menutup mulut saat berkomunikasi dengan lawan secara konfrontatif atau meninggalkan lapangan sebagai protes terhadap keputusan wasit akan dikenai sanksi.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perubahan ini patut dicermati karena Bundesliga memiliki basis penggemar yang besar di Tanah Air. Aturan-aturan baru ini berpotensi mempercepat tempo pertandingan dan mengurangi drama yang sering terjadi akibat pembuangan waktu. Namun, efektivitasnya masih perlu diuji di lapangan, terutama dalam hal konsistensi penerapan batas waktu oleh wasit. Pertanyaan besarnya, akankah aturan ini benar-benar mengubah wajah Bundesliga menjadi lebih dinamis, atau justru memicu kontroversi baru?



