Amerika Rayakan 250 Tahun di Tengah Perpecahan: Trump Kibarkan Ancaman 'Komunis'
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump memanfaatkan peringatan 250 tahun kemerdekaan untuk menggelar kampanye besar, menuduh kelompok kiri sebagai 'ancaman komunis' terhadap identitas Amerika.
- Gelombang panas ekstrem melumpuhkan perayaan di banyak kota, namun Trump tetap mengadakan panggung raksasa di National Mall dengan pidato panjang dan pesta kembang api.
- Jajak pendapat menunjukkan 61% warga AS merasa negaranya tidak lagi hidup sesuai cita-cita Deklarasi Kemerdekaan, mencerminkan polarisasi politik yang mendalam.

Di tengah suhu yang menyengat hingga 41 derajat Celsius dan peringatan cuaca ekstrem yang menjangkau 160 juta penduduk, Amerika Serikat genap berusia 250 tahun pada 4 Juli 2026. Namun di balik kemeriahan pesta kembang api dan parade, Presiden Donald Trump justru memanfaatkan momen bersejarah ini untuk menggelar demonstrasi kekuatan politik dan melontarkan retorika keras terhadap lawan-lawannya di dalam negeri.
Trump, yang tak gentar oleh cuaca panas, menggelar pidato panjang di Mount Rushmore pada Jumat malam dan akan mengadakan rapat umum besar-besaran di National Mall, Washington, pada hari kemerdekaan. Dengan latar belakang patung empat presiden legendaris, ia menegaskan bahwa identitas Amerika sedang "diserang" oleh kaum radikal dan ekstremis. "Ada kebangkitan ancaman komunis di negeri kita," ujarnya, menggemakan tema yang telah ia gunakan dalam beberapa pekan terakhir untuk menyerang sayap kiri Partai Demokrat yang menang dalam pemilihan pendahuluan.
Pidato Trump di Mount Rushmore—monumen yang memahat wajah George Washington, Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, dan Theodore Roosevelt—bukan tanpa maksud. Ia ingin disejajarkan dengan para pendahulunya, bahkan pendukungnya telah mengajukan undang-undang untuk menambahkan wajahnya di tebing granit tersebut. "Anda tidak harus lahir di sini, tetapi Anda harus mencintai apa yang telah kami bangun," kata Trump, menekankan loyalitas sebagai syarat utama menjadi bagian dari Amerika.
Peringatan 250 tahun ini datang di saat bangsa itu terbelah. Survei Quinnipiac University Poll mengungkapkan 61% warga Amerika merasa negaranya gagal memenuhi cita-cita kemerdekaan. Namun pendapat itu terpolarisasi: mayoritas Republikan yakin AS sudah sesuai idealisme, sementara Demokrat sebaliknya. Seniman Los Angeles, Johnny Presley, meluapkan kekecewaannya: "Terlalu banyak orang saling membenci, mencuri. Aku muak dengan cara negara ini memperlakukan orang, juga tetangganya di luar negeri."
Di sisi lain, warga seperti Karisa Tavassoli, pendidik asal Atlanta keturunan Iran-Amerika, masih percaya pada mimpi Amerika. "Saya punya keamanan, kebebasan bicara, kebebasan beragama, saya bisa memakai apa pun sebagai perempuan. Banyak kekurangan di sini, tapi ada sesuatu yang istimewa yang layak dilindungi," ujarnya. Sementara Alonzo Coby, anggota Suku Shoshone-Bannock, mengingatkan bahwa penduduk asli telah ada jauh sebelum 250 tahun. "Saya bersyukur bisa merayakan, tapi orang harus ingat bahwa penduduk asli Amerika sudah ada di sini jauh lebih lama," katanya.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi pengingat bahwa perayaan kemerdekaan tidak selalu identik dengan persatuan. Polarisasi yang terjadi di AS—antara kelompok yang merasa identitas nasional terancam dan yang menuntut perubahan—mirip dengan dinamika politik di tanah air. Retorika Trump yang mengaitkan lawan politik dengan "komunis" juga mengingatkan pada penggunaan isu ideologis dalam kontestasi elektoral di Indonesia. Pertanyaannya, akankah peringatan 250 tahun ini menjadi momentum rekonsiliasi atau justru memperdalam jurang perpecahan?



