Tiga Polisi Tewas dalam Penggerebekan Narkoba di Kalteng: Bandar Bersenjata Api dan Parang
Baca dalam 60 detik
- Operasi Satresnarkoba Polres Katingan terhadap bandar sabu di Desa Tumbang Kalemei berujung tewasnya tiga personel akibat serangan massa menggunakan senjata tajam dan api rakitan.
- Target utama berinisial BIO berhasil diamankan, namun perlawanan warga yang terus bertambah memaksa polisi menyelamatkan diri hingga berenang menyeberangi sungai.
- Kapolri perintahkan tindakan tegas terukur terhadap bandar narkoba yang melawan, sementara satu tersangka baru ditangkap dan pengejaran terhadap pelaku lain masih berlangsung.

Penggerebekan terhadap jaringan narkoba di pedalaman Kalimantan Tengah berubah menjadi tragedi. Tiga anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Katingan tewas setelah diserang massa saat menjalankan operasi di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, awal pekan ini.
Korban pertama yang ditemukan adalah Aipda Yudhie Perdana Putra, yang meninggal dengan luka senjata tajam. Dua rekannya, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, sempat dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan tewas di sungai sekitar lokasi kejadian. Jenazah Nopandri ditemukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan pada Sabtu (4/7) sore, sementara Sumaryanto baru ditemukan keesokan paginya di Sungai Desa Tumbang Kalemei.
Operasi yang digelar Rabu (1/7) malam itu berawal dari laporan masyarakat tentang peredaran sabu di desa terpencil tersebut. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso mengungkapkan, penyelidikan mengarah pada seorang residivis narkotika berinisial BIO. Sebanyak 12 personel diterjunkan, dibagi menjadi dua tim: satu untuk menangkap target, satu lagi sebagai pendukung.
"Target berhasil diamankan, tetapi situasi berubah ketika beberapa orang di dalam rumah dan warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan parang," kata Eko, Kamis (2/7). Massa terus bertambah dan mulai menggunakan senjata api rakitan, memaksa personel menyelamatkan diri. Sejumlah anggota terpaksa berenang menyeberangi sungai dan berlindung di hutan untuk menghindari amukan massa.
Pasca-insiden, tim gabungan Polda Kalimantan Tengah berhasil menangkap seorang terduga pelaku berinisial S alias A di sebuah lanting sedot emas di Desa Tumbang Pariyei. Kepala Polda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan membenarkan penangkapan tersebut. "Terduga pelaku bersikap kooperatif saat ditangkap bersama istrinya," ujarnya, Jumat pekan lalu. Meski satu pelaku telah diamankan, pengejaran terhadap pelaku lain masih terus dilakukan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merespons tewasnya tiga personel dengan instruksi keras. "Lakukan tindakan tegas terukur terhadap bandar atau gembong narkoba yang melawan upaya penegakan hukum, apalagi membahayakan jiwa petugas atau masyarakat," tegasnya, Jumat (3/7). Sigit menekankan bahwa bandar narkoba adalah "penghancur generasi" yang harus diberantas demi menyelamatkan masa depan bangsa.
Tragedi ini menyoroti tingginya risiko yang dihadapi aparat dalam memberantas narkoba di daerah terpencil, di mana jaringan bandar sering kali memiliki dukungan massa dan persenjataan. Pertanyaannya, apakah tindakan tegas terukur yang diinstruksikan Kapolri cukup untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa, atau justru akan memicu eskalasi kekerasan di lapangan?



