Famke Janssen Dukung Sutradara Muda Kane Parsons Tangani Film X-Men: 'Ini Pergeseran Paradigma'
Baca dalam 60 detik
- Aktris senior X-Men, Famke Janssen, menilai sutradara berusia 20 tahun Kane Parsons layak menyutradarai film superhero, merujuk pada kesuksesan film horor Backrooms yang meraup lebih dari 330 juta dolar AS.
- Janssen memuji pendekatan 'analog' Parsons dan sineas muda lainnya yang membangun audiens lewat YouTube tanpa bergantung pada studio besar, membuka jalan bagi model produksi alternatif.
- Dengan biaya produksi hanya 10 juta dolar AS, Backrooms menjadi bukti bahwa film kreatif beranggaran rendah bisa bersaing di box office, menginspirasi industri film Indonesia yang kerap terkendala dana.

Famke Janssen, aktris yang memerankan Jean Grey dalam waralaba X-Men, secara terbuka mendukung Kane Parsons—sutradara film horor Backrooms berusia 20 tahun—untuk dipercaya menangani film X-Men di masa depan. Dalam sebuah masterclass di Malta's Mediterrane Film Festival, Janssen menyebut keberhasilan Parsons dan sineas muda lainnya sebagai 'pergeseran paradigma' yang membuka peluang bagi model produksi alternatif di Hollywood.
Menurut Janssen, kesuksesan Parsons dan Curry Barker (sutradara Obsession) telah membuktikan bahwa film berkualitas tidak selalu membutuhkan anggaran raksasa. "Mereka membuka pintu, tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi orang lain untuk berkata, 'Kita tidak harus mengikuti sistem kuno yang membuat film seharga 300 juta dolar,'" ujar Janssen, seperti dikutip Vanity Fair. Kedua sutradara tersebut memulai karier dari YouTube, membangun audiens sendiri, dan memproduksi film secara mandiri tanpa bergantung pada studio besar.
Backrooms, yang diadaptasi dari creepypasta populer, dibuat dengan anggaran hanya 10 juta dolar AS—sangat kecil jika dibandingkan dengan film superhero tipikal. Namun, film ini telah meraup lebih dari 330 juta dolar AS di seluruh dunia. Kesuksesan ini mendorong rencana perilisan ulang edisi khusus bertajuk Backrooms: Everything Must Go Edition pada akhir pekan 4 Juli mendatang, yang akan menampilkan 15 menit cuplikan bonus setelah kredit akhir. Sementara itu, Obsession karya Curry Barker yang dibuat dengan modal hanya 750.000 dolar AS berhasil mengumpulkan 334 juta dolar AS dalam 39 hari pertama penayangannya.
Janssen secara khusus memuji pendekatan 'analog' yang digunakan Parsons dan Barker. "Mereka bukan film yang digerakkan oleh AI atau CGI berat," katanya. "Backrooms seperti Stanley Kubrick yang pakai narkoba," canda Janssen, merujuk pada labirin set praktis yang digunakan dalam film tersebut. Pendekatan ini kontras dengan film-film superhero modern yang kerap mengandalkan efek digital mahal.
Bagi industri film Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Di tengah keterbatasan anggaran, sineas Tanah Air dapat meniru model produksi mandiri yang mengutamakan kreativitas dan membangun basis penggemar melalui platform digital sebelum menjangkau layar lebar. Keberhasilan Parsons dan Barker menunjukkan bahwa cerita yang kuat dan pendekatan produksi yang efisien mampu bersaing dengan film-film beranggaran besar, sekaligus membuka peluang bagi sutradara muda Indonesia untuk menembus pasar global tanpa harus bergantung pada studio besar.
Pertanyaan selanjutnya: akankah studio Hollywood seperti Marvel atau DC berani mengambil risiko dengan mempercayakan waralaba besar kepada sutradara muda yang terbukti mampu menghasilkan keuntungan besar dengan biaya minim? Atau justru model produksi alternatif ini akan semakin menggeser dominasi film-film mahal di masa depan?



