Jokowi Kembali ke Panggung Politik: Membangun Dinasti atau Sekadar Uji Coba?
Baca dalam 60 detik
- Mantan Presiden Joko Widodo memulai tur politik pertamanya pasca-jabatan ke Lampung, memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.
- Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga pengaruh politik keluarga, terutama untuk memuluskan jalan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden Prabowo Subianto di Pilpres 2029.
- Para pengamat meragukan efektivitas manuver Jokowi mengingat elektabilitas Gibran masih rendah dan kekalahan calon-calon yang diusungnya di pilkada 2024.

Mantan Presiden Joko Widodo kembali menunjukkan gigi politiknya. Dalam tur perdananya sejak lengser, ia menyambangi Lampung selama tiga hari pada akhir Juni lalu—sebuah langkah yang dibaca para analis sebagai awal dari manuver panjang menuju Pemilu 2029.
Dengan mengenakan atribut Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan secara terbuka mengajak masyarakat mendukung partai tersebut, Jokowi seolah menegaskan bahwa pensiun dari kursi presiden tak berarti pensiun dari panggung kekuasaan. PSI, partai yang kini diketuai oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep, belum pernah meraih kursi parlemen sejak didirikan pada 2014. Namun, Jokowi optimistis partai itu bisa menembus Senayan dalam lima tahun mendatang.
“Kalau targetnya hanya masuk Senayan, saya yakin bisa. Tapi target kita besar, mesinnya juga harus besar dan kuat,” ujar Jokowi di Lampung, 28 Juni lalu. Meski begitu, ia bukan anggota PSI dan tak memegang jabatan formal di partai tersebut—sebuah detail yang dianggap para pengamat sebagai formalitas belaka.
Aditya Perdana, analis politik dari Universitas Indonesia, menilai kunjungan itu adalah bagian dari strategi jangka panjang. “Jokowi memposisikan diri untuk bertarung di bawah bendera PSI. Ini juga untuk memastikan Gibran tetap menjadi pendamping Prabowo di pemilu mendatang,” katanya. Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, kini menjabat wakil presiden. Sementara menantu Jokowi, Bobby Nasution, menjadi Gubernur Sumatera Utara.
Ray Rangkuti, direktur eksekutif Lingkar Madani, menambahkan bahwa keberhasilan politik anak-anak Jokowi masih bergantung pada popularitas sang mantan presiden. “Tanpa dukungan Jokowi, elektabilitas Gibran dan Kaesang akan rendah,” ujarnya. Ray juga menilai Jokowi enggan mundur sebagai negarawan pensiunan, melainkan ingin tetap menjadi figur berpengaruh.
Namun, tak semua pihak nyaman dengan manuver ini. Prasetyo Hadi, wakil ketua umum Partai Gerindra yang juga Menteri Sekretaris Negara, hanya berkomentar singkat: “Kami dari Gerindra mengucapkan selamat karena beliau sudah sehat kembali. Sebagai tokoh dan negarawan, saya rasa tidak ada masalah.” Ucapan yang menurut Aditya Perdana terkesan basa-basi dan menandakan ketidaknyamanan kubu Prabowo.
Wasisto Raharjo Jati, peneliti politik dari BRIN, mengingatkan bahwa pengaruh Jokowi sebagai kingmaker tidak mutlak. Buktinya, pada Pilkada 2024, sejumlah calon yang didukungnya kalah, termasuk Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta yang dikalahkan oleh Pramono Anung dari PDI-P. “Tidak ada jaminan 100% bahwa Prabowo-Gibran akan tetap satu tiket di 2029. Kontestasi bisa berubah drastis,” kata Wasisto.
Di sisi lain, Jokowi juga memanfaatkan simbol-simbol tradisional untuk memperkuat pesan politiknya. Dalam sebuah upacara adat di Lampung, ia diarak dengan gelar kehormatan dan meletakkan kaki di atas kepala kerbau mati. Foto ritual itu viral dan ditafsirkan netizen sebagai gestur menginjak PDI-P yang berlambang kepala banteng. PSI enggan berkomentar banyak, hanya menyebut tradisi tersebut bagian dari budaya setempat.
Para pengamat sepakat bahwa tur Lampung hanyalah pemanasan. Jokowi diperkirakan akan melakukan kunjungan serupa ke provinsi lain dengan interval yang dirancang untuk memaksimalkan perhatian media. “Butuh dua hingga tiga tahun untuk membangun dukungan publik,” kata Aditya. Pertanyaannya, apakah popularitas Jokowi cukup kuat untuk mengantarkan dinasti politiknya melewati rintangan elektoral dan resistensi dari kubu penguasa saat ini?



