Iran Gelar Pemakaman Khamenei: Uji Loyalitas di Tengah Krisis
Baca dalam 60 detik
- Ratusan ribu pelayat memadati Teheran untuk menghadiri upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Israel.
- Rezim Iran berupaya memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan persatuan dan perlawanan terhadap Barat, di tengah protes domestik dan ketidakpastian suksesi.
- Ketiadaan putra dan penerus Mojtaba Khamenei di publik memicu spekulasi mengenai stabilitas kepemimpinan Iran ke depan.

Ratusan ribu pelayat mengenakan pakaian hitam dan mengibarkan bendera merah darah memadati kompleks keagamaan Grand Mosalla di Teheran, Sabtu (4/7), dalam upacara pemakaman massal Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Israel pada akhir Februari lalu. Pemerintah Iran menargetkan mobilisasi lebih dari 10 juta orang di ibu kota sebagai pesan perlawanan kepada Barat di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989 dan dikenal dengan kebijakan konfrontatif terhadap Amerika Serikat serta Israel, tewas bersama sejumlah anggota keluarga dan pejabat tinggi dalam serangan yang menandai hari pertama perang pada 28 Februari. Jenazahnya akan disemayamkan di Teheran selama tiga hari, kemudian dibawa ke kota suci Qom, lalu ke Irak, sebelum dimakamkan di kampung halamannya, Mashhad, pada Kamis pekan depan.
Upacara ini menjadi ujian besar bagi rezim yang tengah goyah. Pada Januari lalu, Iran diguncang protes massal yang menurut kelompok hak asasi manusia menewaskan ribuan orang. Kini, dengan ketiadaan putra dan penerus yang ditunjuk, Mojtaba Khamenei, di hadapan publik, spekulasi mengenai perpecahan internal kian menguat. Mojtaba dikabarkan terluka dalam serangan yang sama dan hanya berkomunikasi melalui pernyataan tertulis.
Di tengah hiruk-pikuk duka, para pejabat yang selamat berusaha menunjukkan front persatuan. Mohammad Bagher Ghalibaf, juru runding utama dalam perundingan damai dengan AS, tampak berlinang air mata saat menyambut tamu asing. Sementara itu, Ahmad Vahidi, panglima baru Garda Revolusi yang menggantikan pendahulunya yang tewas, muncul untuk pertama kalinya di depan publik. "Seruan balas dendam bangsa ini harus terdengar di seluruh dunia," ujar Ghalibaf, mendesak warga Iran untuk hadir berbondong-bondong.
Namun, di balik kemeriahan seremonial, Teheran justru lebih sepi dari biasanya. Banyak warga memilih meninggalkan kota selama upacara berlangsung, menurut laporan AFP. Langkah ini mencerminkan kelelahan dan ketidakpastian yang melanda masyarakat setelah lima pekan perang. Pemerintah pun menerapkan pengamanan ketat, termasuk penutupan jalan dan kemungkinan penutupan wilayah udara, untuk menghindari insiden desak-desakan yang pernah terjadi pada acara serupa.
Bagi Indonesia, dinamika politik Iran pasca-Khamenei patut dicermati. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, Indonesia memiliki hubungan diplomatik dan ekonomi yang cukup erat dengan Iran, terutama di sektor energi. Ketidakstabilan di Iran berpotensi mempengaruhi harga minyak global dan pasokan energi ke Indonesia. Selain itu, perubahan haluan kebijakan luar negeri Iran pasca-perang dapat berdampak pada situasi geopolitik Timur Tengah yang juga menjadi perhatian Jakarta.
Pertanyaan besarnya kini: akankah suksesi kepemimpinan berjalan mulus, atau justru memicu perebutan kekuasaan yang lebih dalam? Dengan ketidakhadiran Mojtaba Khamenei di publik dan spekulasi mengenai kesehatannya, masa depan politik Iran masih diselimuti kabut tebal. Dunia menanti apakah rezim ini mampu bertahan menghadapi tekanan internal dan eksternal, atau justru ambruk di bawah beban perang dan protes.



