Minyak Terus Merosot ke US$70,82: Doha Buka Jalan Pasokan Global Longgar
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent jatuh di bawah US$71 per barel, terendah dalam sepekan, setelah perundingan AS-Iran di Doha meredakan ketegangan Selat Hormuz.
- Negosiasi yang membahas kelancaran lalu lintas maritim dan pencairan dana beku Iran memicu ekspektasi peningkatan ekspor minyak dari Teluk.
- OPEC+ diperkirakan menambah kuota produksi 188.000 barel per hari pada Agustus, memperkuat kekhawatiran kelebihan pasokan global.

Harga minyak mentah dunia kembali terperosok pada perdagangan Kamis (2/7/2026), dengan Brent jatuh ke level US$70,82 per barel, memperpanjang tren penurunan yang telah menggerus hampir 12% nilainya dalam dua pekan terakhir. Anjlok ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz setelah perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Doha membuahkan hasil positif.
Berdasarkan data Refinitif, Brent terkoreksi 1,05% dibanding penutupan sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) terpuruk 1,22% ke US$67,74 per barel. Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, sejak 19 Juni lalu, Brent telah kehilangan sekitar US$9,75 per barel dari posisi US$80,57. Penurunan ini menjadi yang tercepat sejak awal tahun, mengindikasikan perubahan sentimen pasar yang drastis dari kekhawatiran pasokan menjadi kekhawatiran kelebihan suplai.
Pendorong utama pelemahan adalah kesepakatan yang dicapai dalam pembicaraan dua hari di Doha, yang difasilitasi oleh Qatar. Kedua negara membahas kelancaran lalu lintas maritim dan pencairan dana Iran yang sempat dibekukan. Hasilnya, arus kapal tanker mulai pulih menuju tingkat sebelum konflik, setelah sempat terganggu oleh saling serang pada akhir pekan lalu. Selat Hormuz, yang menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak global, kini kembali terbuka lebar, memicu ekspektasi lonjakan ekspor dari kawasan Teluk.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan fokus ke potensi kelebihan pasokan, terutama dengan rencana OPEC+ yang diperkirakan akan kembali meningkatkan target produksi pada pertemuan Minggu mendatang. Menurut laporan Reuters, kenaikan kuota produksi untuk Agustus berpotensi mencapai sekitar 188.000 barel per hari, sama seperti tambahan produksi pada Juni dan Juli. Langkah ini, jika terealisasi, akan menambah tekanan ke pasar yang sudah dibanjiri ekspektasi peningkatan pasokan dari Iran dan sekutunya.
Bagi Indonesia, tren penurunan harga minyak ini membawa angin segar bagi anggaran negara, mengingat posisi Indonesia sebagai importir minyak netto. Harga minyak yang lebih rendah berarti beban subsidi energi dan kompensasi dapat berkurang, memberikan ruang fiskal yang lebih longgar. Namun, di sisi lain, penurunan ini juga mencerminkan perlambatan permintaan global yang dapat berdampak pada ekspor komoditas lainnya. Investor domestik perlu mencermati volatilitas ini, terutama terkait prospek inflasi dan nilai tukar rupiah.
Meskipun data persediaan minyak Amerika Serikat dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan stok sebesar 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barelโlevel terendah sejak September 2018โpenurunan tersebut masih di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan penyusutan 4,5 juta barel. Angka ini gagal memberikan penopang berarti bagi harga, karena pasar lebih fokus pada prospek pasokan yang melimpah ke depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah OPEC+ akan tetap pada rencana kenaikan produksi di tengah tekanan harga yang terus turun, atau justru menunda langkah tersebut untuk menstabilkan pasar. Keputusan pada pertemuan Minggu depan akan menjadi penentu arah harga minyak dalam jangka pendek, dan menjadi sinyal penting bagi negara-negara konsumen seperti Indonesia.



