IHSG Melonjak 1,22% di Awal Sesi, Saham Bank dan Konglomerasi Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 69 poin ke level 5.764 pada Kamis pagi, didorong oleh aksi beli di sektor finansial dan barang baku.
- Saham bank-bank besar seperti BBCA dan BMRI menjadi kontributor utama kenaikan indeks, sementara emiten Grup Barito juga ikut mendongkrak performa pasar.
- Meski IHSG perkasa, tekanan dari eksternal masih membayangi: bursa Asia melemah, Wall Street terkoreksi, dan The Fed masih hawkish.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (2/7/2026) dengan lonjakan signifikan, menguat 1,22% atau 69 poin ke posisi 5.764 pada pukul 09.16 WIB, melanjutkan tren positif dari sesi sebelumnya. Pergerakan ini menandai optimisme investor di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global.
Data perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp 1,68 triliun dengan volume 2,78 miliar saham dalam 200 ribu kali transaksi. Sebanyak 356 saham tercatat menguat, 162 saham melemah, dan 165 saham stagnan. Hampir seluruh sektor industri mencatatkan penguatan, dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 2,57%, disusul utilitas (1,85%), finansial (1,44%), dan properti (1,36%). Satu-satunya sektor yang terkoreksi tipis adalah kesehatan.
Penguatan IHSG kali ini ditopang oleh aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan. Bank Central Asia (BBCA) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 17,69 indeks poin, diikuti Bank Mandiri (BMRI) sebesar 9,82 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 4,39 poin, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) 2,64 poin. Secara keseluruhan, saham bank-bank kategori KBMI III kompak menghijau.
Selain perbankan, emiten konglomerasi juga turut mendorong indeks. Saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu—seperti AMMN, BRMS, BREN, dan MORA—seluruhnya menguat. Emiten tambang emas, termasuk BRMS dan ANTM, juga menjadi penopang kinerja indeks pada pagi ini.
Namun, optimisme di pasar domestik berbanding terbalik dengan sentimen regional. Bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada Kamis pagi, mengikuti koreksi Wall Street semalam. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 5,36% sehingga Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara perdagangan selama lima menit. Nikkei 225 Jepang turun 0,70%, Topix menguat tipis 0,13%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,59%. Di Amerika Serikat, Dow Jones sempat menyentuh rekor tertinggi intraday sebelum akhirnya ditutup hampir stagnan, sementara S&P 500 turun 0,2% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7% akibat aksi ambil untung di saham teknologi, khususnya semikonduktor.
Tekanan eksternal ini menjadi ujian bagi IHSG ke depan. Pasar keuangan Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah risiko: defisit neraca dagang, penurunan PMI Manufaktur, inflasi yang meningkat, serta sikap hawkish The Fed yang tercermin dari pidato Chairman Kevin Warsh. Faktor-faktor tersebut berpotensi membebani rupiah dan indeks pada sesi berikutnya. Investor pun akan mencermati data ekonomi domestik dan pernyataan pejabat The Fed sebagai panduan arah selanjutnya.
Dengan penguatan pagi ini, IHSG berhasil mempertahankan momentum positif di awal semester II-2026. Namun, volatilitas global yang tinggi menuntut kewaspadaan. Akankah reli ini berlanjut, atau justru terhenti oleh tekanan eksternal yang kian deras?



