Pecah Kongsi dengan PAS, Peluang Bersatu di Lima Kursi Johor Terancam
Baca dalam 60 detik
- Bersatu menghadapi risiko kehilangan lima kursi di pemilihan Johor setelah PAS memutuskan tidak akan membantu kampanye.
- Tanpa mesin politik PAS yang solid, koalisi Perikatan Nasional kehilangan basis suara Melayu-Muslim yang selama ini menjadi andalan.
- Pertarungan tiga penjuru antara BN, PH, dan Bersatu diprediksi semakin sengit, dengan loyalis PAS menjadi penentu kemenangan.

Lima dari 16 kursi yang diperebutkan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) dalam pemilihan negara bagian Johor pada 11 Juli mendatang berada dalam posisi genting. Penyebabnya adalah retaknya hubungan koalisi dengan Partai Islam Se-Malaysia (PAS), yang sejak 8 Juni lalu resmi mengakhiri kerja sama politik meski masih berada di bawah payung Perikatan Nasional (PN).
Kursi-kursi yang dimaksud adalah Kemelah, Bukit Pasir, Serom, Senggarang, dan Tenggaroh. Dalam pemilu 2022, kelima daerah pemilihan ini nyaris direbut PAS dari Barisan Nasional (BN) dengan selisih suara tipis. Di Tenggaroh, misalnya, PAS memperoleh 42,78 persen suara dan kalah hanya 1.356 suara. Di Bukit Pasir, kekalahan PAS bahkan lebih tipis: 198 suara. Angka-angka itu menunjukkan bahwa PAS memiliki basis dukungan yang solid di wilayah tersebut, meski tidak satupun berhasil dimenangkan.
Keputusan PAS untuk tidak lagi mendukung kampanye Bersatu diumumkan langsung oleh presidennya, Abdul Hadi Awang, pada 27 Juni lalu. โKami tidak akan mengangkat satu jari pun untuk Bersatu,โ tegasnya. Meski demikian, kedua partai masih berada dalam koalisi PN, namun kini berkampanye secara terpisah dengan mesin politik masing-masing. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: akankah pemilih setia PAS tetap mendukung calon Bersatu, atau justru memilih golput?
Menurut pengamat politik dari Universiti Sains Malaysia, Azmil Tayeb, fragmentasi di dalam koalisi justru melemahkan kepercayaan pemilih. โKoalisi yang terpecah tidak bisa menyusun agenda bersama. Pemilih mencari substansi, bukan sekadar alternatif buruk dari yang tidak mereka sukai,โ ujarnya. Pernyataan ini relevan mengingat PN selama ini mengandalkan basis Melayu-Muslim yang solid berkat sinergi antara mesin politik PAS yang disiplin dan jaringan akar rumput yang luas.
Ketua PN, Ahmad Samsuri Mokhtar, sebelumnya menegaskan bahwa setiap partai anggota bertanggung jawab penuh atas calon, mesin, dan kinerja kampanye di kursi yang mereka rebut. Wakil presiden PAS, Tuan Ibrahim Tuan Man, juga mengonfirmasi bahwa kedua partai akan beroperasi secara independen di lapangan. Model kampanye semacam ini dinilai tidak lazim bagi koalisi yang selama ini mengandalkan kekuatan kolektif.
Dalam pemilu Johor 2022, BN berhasil merebut 40 dari 56 kursi, diikuti Pakatan Harapan (PH) dengan 12 kursi, PN tiga kursi, dan Muda satu kursi. Kini, dengan PN yang terbelah, pertarungan di lima kursi tersebut diprediksi menjadi tiga penjuru antara BN, PH, dan Bersatu. Tanpa dukungan mesin PAS, Bersatu harus berjuang sendiri mempertahankan basis pemilih yang sebelumnya loyal kepada PN.
Bagi Indonesia, dinamika politik Malaysia ini menarik dicermati karena menunjukkan betapa rapuhnya koalisi berbasis identitas ketika kepentingan partai lebih dominan daripada agenda bersama. Di tengah menguatnya politik identitas di kawasan, perpecahan seperti ini bisa menjadi pelajaran bahwa koalisi yang tidak dikelola dengan baik akan mudah runtuh dan merugikan semua pihak.
Pertanyaan kuncinya kini: akankah pemilih PAS yang kecewa beralih ke BN atau PH, atau justru memilih untuk tidak memilih? Hasil pemilu Johor akan menjadi indikator awal apakah PN masih memiliki masa depan tanpa sinergi kedua partai utamanya.



