Naira Menguat di Tengah Anjloknya Volume Transaksi Valas Antarbank
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar naira di pasar resmi menguat ke N1.372 per dolar AS setelah volume transaksi valas antarbank merosot 67% menjadi hanya 90,3 juta dolar.
- Penurunan jumlah kesepakatan dari 166 menjadi 91 mengindikasikan permintaan dolar dari nasabah bank mulai mereda, mengurangi tekanan pada pasokan valas.
- Cadangan devisa Nigeria tercatat 51,46 miliar dolar pada akhir semester pertama 2026, didukung aliran masuk dari berbagai sumber utama.

Naira Nigeria mencatat penguatan signifikan di pasar resmi setelah data menunjukkan penurunan tajam volume transaksi dan jumlah kesepakatan valuta asing antarbank pada Rabu (26/6). Fenomena ini mengindikasikan bahwa permintaan pembayaran valas dan likuiditas pasar mengalami pelonggaran, sehingga memperkuat nilai tukar spot di Nigeria Foreign Exchange Market (NFEM).
Menurut laporan harian bank sentral Nigeria, nilai tukar naira membaik menjadi N1.372 per dolar AS pada Rabu, di tengah minimnya permintaan signifikan untuk pembayaran luar negeri. Sepanjang sesi intraday, kurs spot bergerak dalam rentang N1.368 hingga N1.378,5 per dolar. Sementara itu, transaksi antarbank melambat drastis dengan penurunan volume 67% menjadi 90,303 juta dolar dari 269,898 juta dolar pada hari sebelumnya.
Jumlah kesepakatan valas antarbank juga berkurang dari 166 menjadi 91, mengurangi tekanan pada pasokan valuta asing di jendela NFEM. Analis menilai bahwa penurunan jumlah transaksi dan volume menunjukkan permintaan dolar dari nasabah bank mulai mereda pada hari itu. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Di sisi lain, harga minyak mentah masih tertekan pada Rabu, seiring pelaku pasar mencermati negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat serta menanti data terbaru persediaan minyak mentah AS. Brent futures turun 62 sen (0,9%) menjadi 72,33 dolar per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 38 sen (0,6%) ke 69,12 dolar per barelโlevel terendah sejak 27 Februari. Pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz turut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan besar.
Bagi Indonesia, pergerakan naira dan harga minyak ini relevan mengingat keduanya merupakan negara produsen minyak dan sama-sama menghadapi tekanan nilai tukar. Penguatan naira yang didorong oleh penurunan permintaan valas bisa menjadi pelajaran bagi Bank Indonesia dalam mengelola volatilitas rupiah. Sementara itu, pelemahan harga minyak berpotensi menekan penerimaan negara dari sektor migas, meskipun Indonesia lebih diuntungkan sebagai importir minyak bersih. Ke depan, pasar akan fokus pada data persediaan minyak AS dan perkembangan diplomasi global untuk menentukan arah harga komoditas dan nilai tukar.



