Zoey Deutch: Saya Tak Ingin Main Film Genre Sama Dua Kali
Baca dalam 60 detik
- Aktris Zoey Deutch mengaku selalu mencari tantangan baru dengan berganti genre film setiap kali selesai satu proyek.
- Setelah membintangi romcom Netflix 'Voicemails for Isabelle', ia kini mengincar film psikologis thriller atau horor yang belum pernah dilakoninya.
- Deutch merasa memasuki era baru karier di usia 31 tahun, lebih tenang dan tidak lagi dihantui kecemasan seperti masa mudanya.

Bagi Zoey Deutch, berakting bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa yang harus terus diperbarui. Aktris berusia 31 tahun itu mengaku tidak pernah ingin mengulangi genre yang sama setelah menyelesaikan satu film. Prinsip inilah yang membuat kariernya di Hollywood selalu berwarna, dari komedi romantis hingga drama keluarga.
Dalam wawancara terbaru dengan People, Deutch mengungkapkan bahwa ia sengaja melompat dari satu genre ke genre lain. "Saya menikmati melakukan genre yang benar-benar berbeda setelah menyelesaikan satu hal. Saya tidak ingin melakukan hal yang sama lagi," ujarnya. Sikap ini, menurut pengamat industri, menjadi strategi langka di tengah aktor yang cenderung nyaman dengan satu formula sukses.
Deutch, yang lahir dari keluarga senimanโkedua orangtuanya adalah aktorโmerasa beruntung mendapat dukungan penuh. "Saya tidak ingat kapan saya tidak ingin berakting. Orang tua saya sangat mendukung dan hadir, saya tidak bisa lebih beruntung. Itu salah satu hal terbaik untuk industri gila seperti ini," kenangnya. Dukungan itu menjadi fondasi yang membuatnya berani mengambil risiko artistik.
Film anyar Deutch, Voicemails for Isabelle, adalah romcom Netflix yang berkisah tentang seorang calon pembuat roti yang berduka setelah kematian saudarinya. Meski genre romcom sudah ia lakoni sebelumnya, Deutch mengaku awalnya ragu. "Saya cukup terus terang, sangat ragu untuk membuat film genre ini lagi. Alasan saya ingin melakukan ini karena filmnya terasa dalam, tentang kesedihan, cinta setelah kehilangan, dan tentang saudara perempuan," jelasnya. Ia bahkan menangis saat membaca naskah di pantai bersama teman masa kecilnya.
Ketertarikan Deutch pada elemen persaudaraan menjadi faktor penentu. "Saya benar-benar jatuh cinta dengan elemen kisah cinta saudara. Adik perempuan saya adalah orang favorit saya di dunia, sahabat saya, dan itu sangat menyentuh saya. Film ini lucu dan romantis, tapi juga sangat dalam dan memilukan," tuturnya. Bagi penonton Indonesia, tema ikatan keluarga seperti ini kerap menjadi daya tarik tersendiri, mengingat budaya kekeluargaan yang kuat di Tanah Air.
Setelah Voicemails for Isabelle, Deutch sudah mengincar tantangan baru. "Saya belum pernah melakukan film thriller psikologis atau horor, dan saya sangat ingin melakukannya," ungkapnya. Langkah ini menunjukkan ambisinya untuk terus bereksplorasi di luar zona nyaman. Di industri perfilman Indonesia, fenomena aktor yang berganti genre juga mulai terlihat, seperti Adipati Dolken yang beralih dari drama ke horor, atau Reza Rahadian yang kerap mengambil peran beragam.
Deutch juga merasa dirinya telah memasuki "era baru" dalam karier. "Saya tidak lagi 22 tahun. Saya merasa lebih selaras dan membumi, dan saya juga merasa berada di babak kedua atau era baru karier saya. Saya merasa sangat terinspirasi, bersemangat, dan jauh lebih tidak cemas, yang menyenangkan karena saya menghabiskan sebagian besar hidup saya hanya mengidentifikasi diri sebagai orang yang sangat cemas," katanya. Pernyataan ini mencerminkan kedewasaan emosional yang langka di kalangan selebritas muda Hollywood.
Pertanyaan besarnya, akankah penonton Indonesia menyambut Deutch jika ia merambah genre horor? Dengan basis penggemar yang terus tumbuh berkat platform streaming, bukan tidak mungkin aktris ini akan menjadi langganan daftar tontonan masyarakat Indonesia. Yang jelas, Deutch telah membuktikan bahwa keberanian untuk berubah adalah kunci umur panjang di industri hiburan.



