Water Bombing Gagal Padamkan Api, TPA Jatiwaringin Masih Berkobar
Baca dalam 60 detik
- Helikopter BNPB melakukan water bombing di TPA Jatiwaringin, namun api masih menyala di beberapa titik hingga malam hari.
- BNPB menyiapkan teknologi modifikasi cuaca untuk mempercepat pemadaman, menunggu kondisi atmosfer dari BMKG.
- Kebakaran yang berlangsung sejak Selasa ini mengancam permukiman warga dengan asap tebal yang menyebar luas.

Upaya pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Tangerang, Banten, melalui water bombing menggunakan helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Rabu (1/7) sore belum membuahkan hasil maksimal. Kobaran api masih terlihat di sejumlah titik, sementara asap tebal terus membumbung dan mengganggu permukiman warga.
Helikopter tiba sekitar pukul 16.55 WIB dan langsung menyiram air ke titik api di bagian utara TPA yang sulit dijangkau petugas darat. Air diambil dari danau terdekat, dan proses penyiraman berlangsung sekitar 20 menit. Namun, hingga malam hari, personel BPBD Kabupaten Tangerang masih berjibaku memadamkan api yang belum sepenuhnya padam.
Kebakaran ini telah berlangsung sejak Selasa (30/6) pukul 11.00 WIB. Asap tebal menyebar hingga ke pemukiman warga, memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan dan lingkungan. Warga setempat memadati area sekitar untuk menyaksikan operasi helikopter, namun hasilnya belum memuaskan.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, menyatakan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) sebagai langkah lanjutan. "BNPB juga menyiapkan dua unit nanti TMC. Sehingga saya perlu ada awan untuk menyirami garam," ujarnya di lokasi. Saat ini, BNPB masih berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau kondisi atmosfer sebelum TMC dapat dilakukan.
Kebakaran di TPA Jatiwaringin menjadi perhatian karena lokasinya yang dekat dengan permukiman. Asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah pernapasan. Penanganan kebakaran TPA seringkali rumit karena material sampah yang mudah terbakar dan sulit dijangkau. Kombinasi water bombing dan TMC diharapkan dapat mempercepat pemadaman, namun efektivitasnya masih tergantung pada kondisi cuaca dan koordinasi antarlembaga.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah teknologi modifikasi cuaca dapat segera diimplementasikan mengingat ketergantungan pada ketersediaan awan. Jika tidak, upaya pemadaman darat dan udara harus terus diintensifkan untuk mencegah meluasnya kebakaran dan dampak buruk bagi warga sekitar.



