Gerakan Tanam Pohon: Langkah Kolektif Menekan Risiko Bencana dan Emisi Karbon
Baca dalam 60 detik
- Rangkaian bencana hidrometeorologi di Sumatra mendorong Yayasan Sihatihat Sanjaya Center menggalakkan penanaman pohon sebagai solusi pemulihan lingkungan.
- Penanaman pohon dinilai mampu memperkuat daya serap tanah, mencegah erosi, dan menyerap COโ secara efektif, sehingga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon.
- Ketua yayasan menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar penghijauan menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra beberapa waktu lalu menjadi alarm keras bagi Indonesia: menjaga keseimbangan alam bukan lagi opsi, melainkan keharusan. Di tengah meningkatnya frekuensi banjir dan longsor akibat alih fungsi lahan dan menyusutnya tutupan hutan, Yayasan Sihatihat Sanjaya Center menginisiasi gerakan penanaman pohon sebagai langkah konkret memulihkan ekosistem sekaligus menekan emisi karbon.
Ketua Yayasan Sihatihat Sanjaya Center, Hari Sanjaya Siregar, menegaskan bahwa berkurangnya kawasan hijau dan perubahan iklim telah memperparah risiko bencana. โBerkurangnya tutupan hutan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta dampak perubahan iklim telah meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi,โ ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7). Menurutnya, pemulihan lingkungan harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen bangsa.
Gerakan ini tidak hanya menyasar penghijauan kembali lahan kritis, tetapi juga bertujuan memperkuat daya resap tanah terhadap air, mengurangi potensi banjir, mencegah erosi, serta menjaga kelestarian sumber mata air. Hari menambahkan bahwa pohon berperan sebagai penyerap karbon dioksida (COโ) yang efektif, sehingga mampu membantu menekan laju pemanasan global. โPenanaman pohon merupakan kontribusi nyata dalam upaya pengurangan emisi karbon,โ katanya.
Hari menekankan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan. โKami meyakini bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh pemangku kepentingan untuk membangun gerakan penghijauan yang berkelanjutan,โ ujarnya.
Ia berharap penanaman pohon tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, melainkan budaya dan komitmen jangka panjang. Semakin luas kawasan hijau yang dibangun dan dipelihara, semakin besar kontribusi Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim serta mewujudkan lingkungan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah gerakan ini bertransformasi dari aksi sporadis menjadi kebijakan nasional yang terukur?



