Napoli Patok Harga Lukaku €10 Juta, Chelsea Incar 30% Komisi
Baca dalam 60 detik
- Napoli membanderol Romelu Lukaku minimal €10 juta untuk klub MLS, Arab Saudi, atau Anderlecht, dengan gaji pemain yang mencapai €12,5 juta per tahun menjadi beban utama.
- Chelsea berhak atas 30% dari nilai transfer jika harga jual menembus €15 juta, menyusul klausul yang disepakati saat Napoli membeli Lukaku seharga €30,7 juta pada 2024.
- Ketegangan antara Lukaku dan Napoli kian memanas setelah pemain memilih fisioterapis pribadi dan kepergian pelatih Antonio Conte mengurangi ikatan emosionalnya dengan klub.

Napoli bertekad melepas Romelu Lukaku di bursa transfer musim panas ini, dengan banderol minimal €10 juta bagi klub peminat dari Major League Soccer (MLS), Liga Arab Saudi, atau RSC Anderlecht. Keputusan ini diambil tak hanya karena performa sang striker yang menurun, tetapi juga beban gaji fantastis yang mencapai €12,5 juta per tahun—angka yang sulit ditanggung klub Italia di tengah upaya peremajaan skuad.
Menurut laporan Gazzetta dello Sport dan TuttoNapoli, Napoli telah menetapkan harga dasar €10 juta untuk setiap tawaran. Namun, nilai tersebut belum termasuk klausul khusus yang menguntungkan Chelsea. Klub Premier League itu masih memiliki hak atas 30% dari biaya transfer, tetapi hanya berlaku jika harga jual mencapai minimal €15 juta. Artinya, jika Lukaku dijual di bawah angka tersebut, Chelsea tidak mendapatkan bagian apa pun.
Lukaku, yang kini berusia 33 tahun, sebelumnya dibeli Napoli dari Chelsea pada 2024 dengan harga €30,7 juta setelah masa peminjaman di Inter Milan dan AS Roma. Namun, hubungannya dengan klub cepat memburuk. Musim lalu, ia membuat gerah manajemen karena memilih pulang ke Belgia untuk menjalani perawatan cedera dengan fisioterapis pribadinya, mengabaikan tim medis Napoli. Kepergian pelatih Antonio Conte—yang sempat menjadi daya tarik utama Lukaku bertahan—semakin memperlemah ikatan pemain dengan klub.
Dari sisi potensi peminat, RSC Anderlecht—klub masa kecil Lukaku—menunjukkan minat, tetapi secara finansial sulit bersaing dengan klub MLS atau Arab Saudi. Pindah ke Amerika Serikat atau Timur Tengah menjadi opsi paling realistis, mengingat kemampuan klub-klub di sana menanggung gaji tinggi. Bagi Napoli, melepas Lukaku bukan sekadar soal teknis, melainkan juga strategi keuangan: dengan gaji sebesar itu, mempertahankannya hanya akan membebani neraca klub tanpa kontribusi setimpal di lapangan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Lukaku menjadi contoh bagaimana nilai pasar pemain bisa anjlok drastis akibat faktor non-teknis seperti cedera, konflik internal, dan beban gaji. Di era regulasi keuangan yang semakin ketat, klub-klub Eropa kini lebih berhati-hati dalam merekrut pemain bintang dengan gaji selangit. Ke depan, apakah Lukaku akan memilih tantangan baru di Amerika atau mengakhiri karier di Timur Tengah? Keputusan itu akan menentukan apakah Napoli bisa segera bernapas lega—atau justru harus menanggung beban lebih lama.



