Brighton Pecahkan Rekor Klub, Tebus Bek Muda Kroasia dari Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Brighton sepakat membayar £46 juta plus bonus potensial untuk Luka Vuskovic, bek Kroasia berusia 19 tahun yang belum pernah bermain untuk Tottenham.
- Transfer ini menjadi yang termahal dalam sejarah Brighton, sekaligus memicu perpindahan Jan Paul van Hecke ke Spurs senilai £52 juta.
- Vuskovic, yang dipinjamkan ke Hamburg musim lalu, diharapkan menjadi pilar pertahanan Brighton setelah Piala Dunia.

Brighton & Hove Albion memecahkan rekor transfer klub dengan menyepakati pembelian Luka Vuskovic, bek Kroasia berusia 19 tahun, dari Tottenham Hotspur senilai £46 juta—angka yang bisa melonjak hingga £50 juta jika bonus terpenuhi. Langkah ini menandai ambisi The Seagulls untuk memperkuat lini belakang dengan talenta muda Eropa yang tengah naik daun.
Kesepakatan itu tercapai setelah Brighton dua kali gagal dalam tawaran sebelumnya bulan lalu. Vuskovic dijadwalkan menjalani tes medis begitu kiprah Kroasia di Piala Dunia 2026 berakhir. Kroasia akan menghadapi Portugal pada babak 32 besar, yang berlangsung Jumat dini hari WIB.
Vuskovic memulai karier di akademi Hajduk Split, klub kota kelahirannya. Ia mencatat rekor sebagai pemain termuda yang tampil di liga utama Kroasia saat berusia 16 tahun, dan kemudian menjadi pencetak gol termuda klub. Pada September 2023, ia meneken kontrak dengan Tottenham dan bergabung pada 2025, namun belum pernah sekalipun memperkuat Spurs di pertandingan resmi.
Musim lalu, Vuskovic dipinjamkan ke Hamburg di Bundesliga Jerman, mencatat 30 penampilan dan enam gol—sebuah catatan impresif untuk seorang bek tengah. Performa itu membuatnya dinobatkan sebagai salah satu bek muda paling menjanjikan di Eropa. Di Brighton, ia akan menggantikan posisi Jan Paul van Hecke yang justru bergerak ke arah berlawanan: Tottenham sepakat membayar £52 juta untuk pemain Belanda berusia 24 tahun itu, yang kontraknya di Brighton tersisa satu tahun.
Bagi pengamat sepak bola, transfer ini mencerminkan strategi Brighton yang konsisten merekrut pemain muda potensial dengan harga tinggi, lalu menjualnya dengan keuntungan. Sebaliknya, Tottenham yang belum lama merekrut Vuskovic justru melepasnya sebelum sempat dimainkan—sebuah langkah yang mungkin menimbulkan pertanyaan soal perencanaan skuad mereka. Di sisi lain, kedatangan Van Hecke memberi Spurs opsi pengalaman di lini belakang.
Di Indonesia, pergerakan ini menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana klub-klub Premier League berlomba mengamankan bakat muda global. Vuskovic, yang masih 19 tahun, bisa menjadi contoh bagi pesepak bola Asia Tenggara bahwa jalur karier di Eropa terbuka lebar lewat sistem peminjaman dan pengembangan. Namun, risikonya tetap ada: belum tentu pemain muda langsung adaptasi dengan kerasnya Premier League.
Dengan Piala Dunia yang masih berlangsung, performa Vuskovic bersama Kroasia akan menjadi sorotan. Jika ia tampil gemilang, nilai transfernya bisa dianggap murah. Sebaliknya, jika gagal bersinar, Brighton harus bersabar. Pertanyaan besarnya: akankah Vuskovic menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan, atau sekadar bagian dari siklus jual-beli pemain yang kian agresif di Inggris?



