India Alami Juni Terkering dalam 12 Tahun, Petani Terancam Gagal Panen
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan Juni di India 39,8% di bawah prediksi, terendah sejak 2012 dan kelima terendah sejak 1901.
- Luas tanam musim panas turun 23% dibanding tahun lalu, dengan padi merosot 25% akibat keterlambatan musim hujan.
- Pemerintah India menyiapkan rencana kontingensi di 315 daerah rawan, namun stok beras nasional masih aman untuk jangka pendek.

India mencatatkan Juni terkering dalam 12 tahun terakhir, dengan curah hujan 39,8 persen di bawah rata-rata historis, memicu kekhawatiran terhadap produksi pangan dan penghidupan jutaan petani yang bergantung pada musim hujan. Badan Meteorologi India (IMD) menyebutkan bahwa Juni 2025 merupakan yang kelima terkering sejak pencatatan nasional dimulai pada 1901, hanya kalah kering dari tahun 1905, 1926, 2009, dan 2014.
Kekeringan awal musim ini langsung berdampak pada luas tanam. Data Kementerian Pertanian India menunjukkan bahwa hingga 30 Juni, petani baru menanami 18,27 juta hektare lahan dengan tanaman musim panasโturun 23 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 23,65 juta hektare. Padi, sebagai komoditas utama, mengalami penurunan paling tajam: luas tanam hanya 2,58 juta hektare, merosot 25 persen dari 3,44 juta hektare pada tahun sebelumnya.
Musim hujan tahun ini memang datang terlambat tiga hari dari jadwal normal, dan pergerakannya terhambat selama hampir dua pekan di wilayah India barat. Akibatnya, persiapan lahan dan penanaman tertunda di sejumlah daerah sentra pertanian. Padahal, sekitar setengah dari lahan pertanian India tidak memiliki irigasi yang memadai dan sepenuhnya bergantung pada hujan. Keterlambatan atau kekurangan curah hujan dapat memukul produksi secara signifikan.
Kepala IMD Mrutyunjay Mohapatra mengonfirmasi bahwa Juni tahun ini adalah yang terkering dalam satu dekade terakhir. "Hanya tahun 1905, 1926, 2009, dan 2014 yang lebih kering dari tahun ini," ujarnya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa musim hujan masih berlangsung hingga September, sehingga masih ada peluang pemulihan. Juli, yang biasanya menyumbang sepertiga total curah hujan musim hujan, menjadi bulan kritis karena bertepatan dengan puncak masa tanam.
Pemerintah India tidak tinggal diam. Menteri Pertanian Shivraj Singh Chouhan mengumumkan bahwa 315 distrik telah diidentifikasi sebagai daerah rawan kekeringan. Rencana kontingensi disiapkan, termasuk penggunaan varietas tanaman berumur pendek, benih yang lebih hemat air, dan penguatan konservasi air. "Kami bersiap dari awal, tidak menunggu krisis," kata Chouhan. Ia juga menegaskan bahwa stok beras dan gandum di gudang pemerintah masih mencukupi, sehingga ketahanan pangan nasional tidak terancam dalam jangka pendek.
Namun, para analis memperingatkan bahwa jika curah hujan Juli tetap di bawah normal, produksi minyak sawit dan biji-bijian minyak dalam negeri bisa terpukul, memaksa India meningkatkan impor minyak nabati. India adalah salah satu importir minyak sawit terbesar dunia, dan gangguan pasokan domestik dapat mempengaruhi harga di pasar global.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. India dan Indonesia sama-sama negara agraris tropis yang bergantung pada musim hujan. Fenomena El Niรฑo yang mulai menguat tahun ini berpotensi memicu kekeringan serupa di sebagian wilayah Indonesia, terutama di zona musim yang lebih kering. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dengan memperkuat sistem irigasi, diversifikasi tanaman, dan manajemen stok pangan. Pengalaman India menunjukkan bahwa meskipun stok beras awal melimpah, keterlambatan tanam yang berlarut dapat menggerus produksi dan mengancam stabilitas harga.
Pertanyaan besarnya: akankah curah hujan Juli pulih cukup untuk menyelamatkan musim tanam India? Ataukah kekeringan Juni hanyalah awal dari musim yang lebih buruk? Jawabannya akan menentukan tidak hanya nasib 200 juta petani India, tetapi juga pasokan pangan dan harga komoditas di kawasan Asia.



