10 Kapal Terkait Thailand Aman Tinggalkan Selat Hormuz, Satu Masih Menunggu
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 10 dari 11 kapal berbendera atau disewa Thailand berhasil keluar dari Selat Hormuz setelah terjebak sejak pengumuman penutupan jalur pada 28 Februari 2026.
- Satu kapal tersisa, Hatthaya Naree, masih menunggu muatan dan akan berangkat segera setelah kondisi navigasi dan keamanan memungkinkan.
- Keberhasilan ini merupakan hasil koordinasi lintas lembaga Thailand, termasuk Kementerian Luar Negeri dan Angkatan Laut, yang terus memantau situasi.

Sebanyak 10 dari 11 kapal yang terkait dengan Thailand akhirnya berhasil meninggalkan Selat Hormuz setelah terjebak selama berbulan-bulan akibat penutupan jalur pelayaran yang diumumkan pada 28 Februari 2026. Kementerian Luar Negeri Thailand mengonfirmasi bahwa hanya satu kapal yang masih berada di kawasan rawan tersebut, yakni Hatthaya Naree, yang tengah menunggu muatan dan bersiap berangkat begitu kondisi memungkinkan.
Krisis ini bermula ketika otoritas setempat menutup akses di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Kapal-kapal Thailand yang hendak melintas mendadak terhenti, memicu kekhawatiran akan keselamatan awak dan kelancaran rantai pasok. Namun, setelah koordinasi intensif, sebagian besar kapal berhasil melewati zona risiko dan kini telah berada di perairan aman.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyebut keberhasilan ini sebagai bukti kemajuan dalam melindungi kepentingan maritim negara. Kerja sama terpadu antara Kementerian Luar Negeri, Angkatan Laut Kerajaan Thailand, Kementerian Perdagangan, Kantor Dewan Keamanan Nasional, serta sektor swasta menjadi kunci utama. Mereka bersama-sama memantau situasi, berkoordinasi, dan memfasilitasi bantuan bagi kapal-kapal yang terdampak.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan kerentanan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz merupakan salah satu titik tersibuk lalu lintas kapal minyak dan barang, termasuk yang menuju Asia Tenggara. Gangguan di selat ini dapat berdampak langsung pada harga energi dan biaya logistik di Indonesia. Meski tidak ada kapal Indonesia yang terjebak dalam insiden ini, pengalaman Thailand menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dan diplomasi maritim.
Menurut pengamat maritim dari Universitas Indonesia, Prof. Budi Santoso, kasus ini menegaskan perlunya kerja sama regional dalam mengamankan jalur pelayaran. โThailand berhasil mengkoordinasikan evakuasi berkat komunikasi yang baik antarlembaga. Indonesia juga perlu memiliki protokol serupa untuk melindungi kapal dan awaknya di zona konflik,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa kapal Hatthaya Naree yang masih tertahan harus menjadi perhatian utama, karena setiap keterlambatan bisa menimbulkan kerugian finansial dan risiko keamanan.
Kementerian Luar Negeri Thailand berjanji akan terus memantau situasi dan membantu kapal terakhir hingga benar-benar aman. Langkah ini diharapkan meminimalkan dampak terhadap transportasi maritim dan operator Thailand. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah situasi serupa terulang, dan sejauh mana negara-negara Asia Tenggara siap menghadapinya?



