Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas, BNPB Kerahkan Helikopter Water Bombing
Baca dalam 60 detik
- BNPB menerjunkan helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran di TPA Jatiwaringin yang telah berlangsung dua hari.
- Pemadaman darat terkendala material sampah mudah terbakar, titik api tinggi, dan angin kencang yang mempercepat penyebaran.
- Cuaca ekstrem dan akumulasi gas metana dari timbunan sampah diduga menjadi pemicu utama kebakaran.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mengerahkan helikopter untuk menjinakkan kobaran api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Tangerang, Banten, yang tak kunjung padam sejak Selasa (30/6) lalu. Operasi water bombing dari udara ini menjadi langkah darurat setelah upaya pemadaman darat selama dua hari tidak membuahkan hasil maksimal.
Kepala BNPB Letjen Suharyanto dalam keterangan resmi, Rabu (1/7), menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan satu unit helikopter yang dilengkapi peralatan water bombing. "Jika diperlukan, kita akan lakukan operasi modifikasi cuaca," ujarnya, mengindikasikan kesiapan untuk menggunakan teknologi hujan buatan guna mempercepat pemadaman. Sejak Selasa sore, Suharyanto telah menginstruksikan tim untuk turun ke lokasi, melakukan asesmen, dan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Hasil asesmen awal tim BNPB yang dipimpin Brigjen Djohan Darmawan mengungkapkan bahwa hingga Selasa malam, api belum berhasil dipadamkan. Kesulitan utama terletak pada material yang terbakarโtumpukan sampah dan bahan mudah terbakar yang membuat api terus menyala. Titik api berada di posisi cukup tinggi, sehingga sulit dijangkau oleh petugas darat. Ditambah embusan angin kencang dan suhu udara panas yang mempercepat penyebaran api ke berbagai arah, situasi semakin rumit.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang sebelumnya menduga cuaca panas ekstrem sebagai pemicu utama. Kepala BPBD Achmad Taufik menjelaskan bahwa suhu tinggi diduga memicu gas metana yang terakumulasi dari timbunan sampah selama bertahun-tahun. "Tumpukan sampah itu yang sudah bertahun-tahun mengandung gas metana. Apabila sudah panas yang ekstrem, maka gas itu bisa menjadi api," ujarnya di lokasi kejadian. Fenomena ini mengingatkan pada kebakaran TPA besar lainnya di Indonesia, seperti TPA Leuwi Gajah di Cimahi beberapa waktu lalu, yang juga dipicu oleh gas metana dan cuaca panas.
Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi sorotan karena dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan warga sekitar. Asap tebal yang dihasilkan dapat mengganggu pernapasan dan mencemari udara. Pemerintah daerah telah mengimbau warga untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Ke depan, BNPB dan BPBD akan terus memantau perkembangan, sementara operasi water bombing diharapkan mampu mengendalikan api sebelum meluas ke area pemukiman. Pertanyaan yang muncul: apakah insiden ini akan mendorong perbaikan sistem pengelolaan sampah di TPA-TPA lain di Indonesia untuk mencegah kebakaran serupa?



