Dari Vancouver ke LRT3: Kisah Dua Generasi Insinyur Perkeretaapian Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Insinyur perawatan Emir Irfan mengikuti jejak ayahnya yang terlibat dalam proyek LRT3, melanjutkan warisan yang terputus karena sang ayah wafat sebelum jalur tersebut selesai.
- Ayah Emir menjalani 25 tahun di industri perkeretaapian, mulai dari perencana operasi hingga manajer, dan turut serta dalam tahap awal LRT3 sebelum pensiun pada 2021.
- LRT3 yang resmi beroperasi pada akhir pekan lalu mencatat 60.000 perjalanan penumpang pada hari pertama, menandai tonggak baru transportasi publik di Lembah Klang.

Kisah dua generasi insinyur perkeretaapian Malaysia kembali mencuri perhatian publik. Hampir tiga dekade setelah sang ayah membantu mempersiapkan sistem kereta tanpa masinis pertama Malaysia, putranya kini mengikuti jejak yang sama—menghidupkan jalur LRT3 yang baru saja diresmikan.
Emir Irfan Mohd Zufri, 32 tahun, membagikan perjalanan emosional itu melalui unggahan di Threads. Ia menyandingkan dua foto yang diambil hampir 30 tahun terpisah: satu memperlihatkan ayahnya di atas SkyTrain Vancouver pada 1997 saat pelatihan pengujian dan komisioning (T&C) menjelang peluncuran Putra LRT (kini Kelana Jaya Line), dan satu lagi memperlihatkan Emir di atas kereta LRT3 selama fase T&C yang sama.
"Saya harus mengikuti kereta melalui berbagai latihan pengujian dan komisioning untuk memahami sistem perawatan. Banyak yang harus dipelajari," tulis Emir dalam unggahannya, seperti dikutip The Star.
Sang ayah, yang menghabiskan 25 tahun di industri perkeretaapian, memulai karier sebagai perencana operasi di Pusat Kendali Operasi Kelana Jaya Line sebelum naik jabatan menjadi manajer. Sebelum pensiun pada 2021, ia mengawasi sistem pendapatan jalur tersebut dan terlibat dalam tahap awal proyek LRT3. Namun, ia tidak sempat melihat proyek itu rampung. "Ayah saya yang mendiang tidak pernah mendapat kesempatan melihat LRT3 selesai, meskipun ia terlibat sejak tahap awal proyek sebelum pensiun pada 2021," ujar Emir.
Emir sendiri baru bergabung dengan industri perkeretaapian pada akhir 2020 sebagai insinyur perawatan. Ia pertama kali bekerja di MRT Putrajaya Line sebelum beralih ke proyek LRT3 pada 2023. Meski tumbuh besar menyaksikan karier ayahnya, Emir mengaku tidak pernah berniat mengikuti jejak tersebut karena latar belakang pendidikannya adalah teknik otomotif. "Dengan perubahan karier ini, saya belajar hal-hal baru dan melakukan yang terbaik bersama tim untuk masyarakat," katanya.
Unggahan Emir mendapat sambutan hangat dari warganet. Banyak yang menyebutnya sebagai penghormatan menyentuh bagi generasi insinyur dan teknisi yang telah membangun jaringan kereta api perkotaan Malaysia. Kisah ini juga menjadi pengingat akan kontribusi para pekerja di balik layar yang jarang terekspos.
LRT3, yang menghubungkan Petaling Jaya, Shah Alam, dan Klang, resmi dibuka pada akhir pekan lalu. Pada hari pertama beroperasi, jalur ini mencatat 60.000 perjalanan penumpang—angka yang menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap moda transportasi baru tersebut. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras para insinyur seperti Emir dan mendiang ayahnya.
Bagi Indonesia, kisah ini relevan mengingat pengembangan sistem kereta api perkotaan juga tengah digencarkan, seperti MRT Jakarta dan LRT Jabodebek. Regenerasi tenaga ahli di sektor perkeretaapian menjadi kunci keberlanjutan proyek-proyek strategis. Pertanyaannya, apakah Indonesia memiliki sistem transfer pengetahuan antargenerasi yang sekuat Malaysia untuk memastikan proyek serupa tidak kehilangan momentum saat para seniornya pensiun?



