Kazu Languages: Poliglot Jepang yang Kuasai 15 Bahasa dan Viral di Media Sosial
Baca dalam 60 detik
- Kazu Languages, kreator asal Jepang, menguasai 15 bahasa dan mampu berkomunikasi dalam lebih dari 60 bahasa secara sederhana, menarik 4,8 juta pengikut di berbagai platform.
- Metode belajarnya unik: memprioritaskan pendengaran dan pengucapan sebelum tata bahasa, serta menghindari penerjemahan dari bahasa Jepang.
- Videonya yang menampilkan interaksi dengan orang asing dalam bahasa ibu mereka berhasil mengubah persepsi negatif penonton terhadap negara tertentu.

Seorang kreator konten asal Jepang berusia 26 tahun, yang dikenal dengan nama Kazu Languages, berhasil menarik perhatian global berkat kemampuannya berbicara dalam 15 bahasa asing. Melalui video chat yang diunggah ke media sosial, ia kerap mengejutkan lawan bicaranya dengan tiba-tiba beralih ke bahasa ibu mereka, memicu reaksi takjub yang kemudian menjadi ciri khas kontennya.
Kazu, yang nama aslinya tidak diungkapkan, memulai perjalanan bahasanya secara serius saat kuliah di Spanyol. Pengalaman bekerja di kafe dan berinteraksi dengan penduduk lokal membuatnya sadar bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jembatan emosional. โBahasa adalah bagian dari identitas seseorang. Berbicara dalam bahasa ibu mereka bisa menyentuh hati,โ ujarnya dalam wawancara dengan Mainichi Shimbun.
Dalam empat tahun terakhir, saluran YouTube-nya telah mengumpulkan lebih dari 1,5 juta pelanggan, sementara total pengikut di Instagram dan TikTok mencapai 4,8 juta. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga meledak di Indonesia pada Maret 2022, ketika salah satu videonya menjadi viral dan menuai komentar positif dari warganet Tanah Air.
Metode belajar Kazu tergolong tidak biasa. Ia memulai dengan mendengarkan frasa demi frasa dari penutur asli melalui aplikasi, mengulanginya dengan suara keras hingga telinganya terbiasa. Baru setelah itu ia beralih ke teks tertulis dan buku tata bahasa. โKuncinya adalah menjauh dari bahasa Jepang. Saya sangat merekomendasikan belajar melalui bahasa Inggris,โ katanya. Bahkan, akhir-akhir ini ia belajar bahasa lain melalui bahasa Prancis.
Kazu juga menekankan pentingnya konsistensi. Setiap hari ia meluangkan dua hingga tiga jam untuk satu bahasa utama, dan menyelingi dengan mendengarkan bahasa lain di waktu senggang. โJika tidak mengulang, saya benar-benar lupa,โ akunya. Namun, ia tidak mengejar kesempurnaan. โTidak apa-apa jika pesan tersampaikan meskipun ada kesalahan,โ tambahnya.
Di balik popularitasnya, Kazu memiliki misi yang lebih besar: menjadi jembatan antarbudaya. Ia mengaku senang ketika penonton berkomentar bahwa videonya mengubah pandangan negatif mereka terhadap suatu negara. โOrang memiliki prasangka karena tidak mengenal negara tersebut. Jika saya bisa memberi mereka kesempatan untuk belajar dan memahami, itulah yang saya inginkan,โ tutupnya.
Ke depannya, Kazu berencana terus memperluas jangkauan bahasanya dan berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk merangkul perbedaan bahasa dan budaya. Pertanyaannya, mampukah metode belajarnya yang unik ini diadopsi oleh pembelajar bahasa di Indonesia, yang memiliki keragaman bahasa daerah sendiri?



