BRI Siapkan Jurus Ganda: Dukung Program Pemerintah dan Genjot Transformasi Bisnis
Baca dalam 60 detik
- BRI memastikan kesiapan infrastruktur dan SDM untuk mendukung program prioritas pemerintahan Prabowo, termasuk penyaluran KUR dan bansos.
- Di tengah kenaikan BI Rate ke 5,75%, BRI mengandalkan transformasi digital dan efisiensi biaya untuk menjaga pertumbuhan kredit dan kualitas aset.
- Rencana buyback saham Rp500 miliar hingga September 2026 menjadi sinyal respons korporasi terhadap dinamika pasar modal.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memproyeksikan diri sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan menyelaraskan strategi bisnis dan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo. Group CEO BRI, Hery Gunardi, dalam paparan Economic Update menegaskan bahwa perseroan telah menyiapkan sistem dan sumber daya manusia yang tersebar hingga ke pelosok untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bantuan sosial.
Jaringan kantor cabang yang luas, ditopang oleh agen BRILink dan platform digital BRImo, menjadi tulang punggung BRI dalam menjangkau segmen mikro dan konsumer. Namun, tantangan datang dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang mencapai 5,75%. Meski demikian, Hery optimistis karena sebagian besar portofolio KUR bersifat fixed rate, sehingga tekanan terhadap margin bisa diredam. "Kami terus memperkuat manajemen risiko dengan mengoptimalkan sektor-sektor yang prospektif," ujarnya.
Untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang, BRI menjalankan program transformasi yang menyasar efisiensi biaya dana (cost of fund) dan biaya kredit (cost of credit). Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi infrastruktur kantor, perluasan layanan BRILink, serta peningkatan transaksi digital melalui BRImo. Di segmen kredit mikro, BRI memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki proses bisnis, yang berdampak pada peningkatan pendapatan bunga dan penurunan pencadangan.
Langkah rebranding yang dilakukan BRI juga menjadi sorotan. Perseroan tidak lagi hanya ingin dikenal sebagai bank pedesaan, melainkan juga mampu bersaing di segmen urban, termasuk melayani nasabah kaya dan private banking. Diversifikasi bisnis pun terus didorong untuk menciptakan mesin pertumbuhan baru di luar kredit tradisional.
Di sisi lain, rencana buyback saham senilai Rp500 miliar yang akan berlangsung hingga September 2026 menjadi sinyal bagi pasar. Hery menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respons korporasi terhadap kondisi pasar saham yang dinamis. Dengan menggunakan kas internal, BRI menunjukkan keyakinan terhadap fundamental bisnisnya di tengah volatilitas.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, strategi BRI ini memberikan gambaran bagaimana BUMN perbankan beradaptasi dengan kebijakan moneter yang ketat tanpa meninggalkan peran sosialnya. Ke depan, efektivitas transformasi digital dan kemampuan mengelola risiko kredit akan menjadi kunci untuk mempertahankan pertumbuhan berkelanjutan. Akankah langkah buyback dan efisiensi operasional cukup untuk menjaga kepercayaan pasar?



