Festival Rain Rave Berpotensi Jadi Agenda Tahunan, Raup Rp3,9 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Edisi perdana Rain Rave Water Music Festival di Malaysia menghasilkan dampak ekonomi sekitar RM392 juta atau Rp3,9 triliun.
- Festival yang digelar di enam lokasi ini menarik 415.000 pengunjung, termasuk 100.000 wisatawan mancanegara dari Asia.
- Pemerintah Malaysia tengah mengkaji pengembangan festival tersebut menjadi agenda pariwisata tahunan berdampak tinggi.

Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya Malaysia, Datuk Seri Tiong King Sing, mengungkapkan bahwa Rain Rave Water Music Festival tengah dipertimbangkan untuk dijadikan agenda pariwisata tahunan setelah edisi perdananya menghasilkan dampak ekonomi mencapai RM392,33 juta atau setara Rp3,9 triliun.
Dalam jawaban tertulis di parlemen pada Senin (1/7), Tiong menyebutkan festival yang digelar di enam lokasiโTerengganu, Melaka, Labuan, Negeri Sembilan, Johor, dan Langkawiโitu berhasil menarik sekitar 415.000 pengunjung. Dari jumlah tersebut, sekitar 150.000 merupakan wisatawan domestik, termasuk dari Sabah dan Sarawak, sementara 100.000 lainnya berasal dari luar negeri seperti China, Jepang, Bangladesh, India, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Indonesia, dan Vietnam.
Pertanyaan diajukan oleh Anggota Parlemen Bukit Bintang, Fong Kui Lun, yang ingin mengetahui keberhasilan festival dari segi jumlah pengunjung, dampak ekonomi, promosi pariwisata, serta rencana pemerintah untuk menggelar acara serupa tahun depan. Menurut Tiong, berdasarkan masukan dari Bukit Bintang-KLCC Tourism Association, program tersebut memberikan manfaat komersial signifikan bagi pelaku usaha di kawasan tersebut.
Dari sisi dampak langsung, Lot 10 mencatat kenaikan jumlah pengunjung sebesar 40% dan peningkatan penjualan hingga 45%. Sementara itu, Sungei Wang Plaza mengalami pertumbuhan jumlah pengunjung sebesar 31,3% yang diiringi lonjakan penjualan. Angka ini menunjukkan bahwa festival tidak hanya mendongkrak sektor pariwisata, tetapi juga memberikan stimulus ekonomi bagi pusat perbelanjaan dan bisnis lokal.
Bagi Indonesia, keberhasilan Rain Rave Festival menjadi contoh konkret bagaimana sebuah acara musik berbasis air dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata. Dengan potensi wisata bahari yang melimpah, Indonesia dapat mengadopsi konsep serupa untuk menarik wisatawan mancanegara, terutama dari Asia Timur dan ASEAN. Namun, tantangan seperti koordinasi antar daerah dan infrastruktur pendukung perlu menjadi perhatian.
Ke depan, pemerintah Malaysia akan mengevaluasi masukan dari berbagai pemangku kepentingan sebelum memutuskan status tahunan festival ini. Jika terealisasi, Rain Rave Festival berpotensi menjadi agenda tetap yang memperkuat posisi Malaysia sebagai destinasi wisata musik dan budaya di kawasan. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru kesuksesan ini dengan menggelar festival serupa yang mampu bersaing di tingkat regional?



